Jakarta – Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) menyebabkan kualitas udara di sejumlah daerah Indonesia memburuk, bahkan Kabupaten Kotawaringin Timur dan Kota Palangka Raya, Kalimantan Tengah, mencatat tingkat PM2.5 dalam kategori berbahaya. Dampak pencemaran udara tersebut turut menjadi perhatian Kementerian Kesehatan setelah tercatat lebih dari 401 ribu kasus ISPA di tujuh provinsi hingga 2 November 2026.
Berdasarkan hasil pemantauan Kementerian Kesehatan (Kemenkes), Kabupaten Kotawaringin Timur mencatat konsentrasi PM2.5 sebesar 580, sedangkan Kota Palangka Raya mencapai angka 348.
Data Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) yang diperbarui pada 3 November 2026 pukul 09.00 WIB tersebut memperlihatkan tingginya tingkat polusi di kedua daerah sehingga memerlukan penanganan dan perhatian serius.
Juru Bicara Utama Kementerian Kesehatan, Widyawati menjelaskan, selain dua wilayah dengan tingkat pencemaran berbahaya, terdapat sejumlah daerah lain yang juga mengalami penurunan kualitas udara.
Dari hasil pemantauan tersebut, sebanyak 15 kabupaten/kota tercatat berada dalam kategori tidak sehat, 60 kabupaten/kota masuk kategori sedang, sementara 14 kabupaten/kota lainnya memiliki kualitas udara dalam kategori baik.
“Ada dua wilayah yang perlu menjadi perhatian khusus, yaitu Kabupaten Kotawaringin Timur dengan nilai PM2.5 sebesar 580 dan Kota Palangka Raya sebesar 348. Keduanya ini sudah masuk dalam kategori berbahaya,” jelas Widyawati dalam konferensi pers di kantor BNPB Jakarta, Selasa, 3 November 2026.
Ia menambahkan, persoalan pencemaran udara tidak hanya ditemukan di Kalimantan Tengah. Sejumlah daerah lain yang turut mengalami kondisi serupa di antaranya Muaro Jambi, Barito Selatan, Sukamara, Katingan, Penukal Abab Lematang Ilir (PALI), Palembang, serta Bengkalis.
Di Provinsi Riau, misalnya, empat daerah tercatat memiliki kualitas udara tidak sehat. Rinciannya, Kota Pekanbaru dengan konsentrasi PM2.5 mencapai 130, Kabupaten Indragiri Hilir sebesar 115, Pelalawan 107, dan Bengkalis 101.
Sementara di Kalimantan Tengah, selain Kotawaringin Timur dan Palangka Raya, lima wilayah lainnya juga mengalami pencemaran udara dalam kategori tidak sehat. Daerah tersebut meliputi Barito Selatan, Sukamara, Katingan, Pulang Pisau, dan Gunung Mas.
Memburuknya kualitas udara ini turut menimbulkan dampak terhadap kondisi kesehatan masyarakat. Kemenkes melaporkan akumulasi sebanyak 401.586 kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) di tujuh provinsi yang tersebar pada 63 kabupaten/kota hingga 2 November 2026 pukul 16.00 WIB.
Bahkan, dalam satu hari pada 2 November 2026, jumlah kasus ISPA mengalami penambahan sebanyak 3.906 kasus.
Kemenkes juga mengingatkan bahwa paparan polusi udara perlu mendapat perhatian lebih, terutama bagi kelompok masyarakat yang memiliki risiko kesehatan lebih tinggi. Kelompok tersebut mencakup balita, lanjut usia, ibu hamil, penderita asma, serta masyarakat yang aktivitas pekerjaannya lebih banyak dilakukan di luar ruangan.
Di sisi lain, Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan BNPB, Berton SP Panjaitan, mengingatkan adanya potensi bencana hidrometeorologi seiring perubahan kondisi iklim.
Menurut Berton, perubahan iklim dapat memicu hujan dengan intensitas tinggi dalam waktu relatif singkat. Situasi tersebut berisiko menimbulkan bencana lanjutan, seperti banjir bandang dan tanah longsor.
Untuk mengantisipasi ancaman tersebut, BNPB meminta pemerintah daerah memperkuat langkah mitigasi dan kesiapsiagaan. Upaya yang perlu dilakukan antara lain memetakan kawasan rawan bencana serta mendata kelompok masyarakat rentan agar penanganan dapat dilakukan secara tepat.
“Kami terus mendorong pemerintah daerah untuk meningkatkan kewaspadaan, kesiapsiagaan dalam mengantisipasi potensi bencana hidrometeorologi basah seiring dengan memasuki musim penghujan,” terang Berton.
