Jakarta – Program Makan Bergizi Gratis (MBG) tidak hanya berkontribusi pada pemenuhan gizi anak, tetapi juga mulai dirasakan dampaknya oleh pelaku usaha mikro di tingkat rumah tangga. Salah satunya dialami oleh Eni Melani (31), peternak ayam petelur rumahan asal Desa Borangan, Kecamatan Manisrenggo, Kabupaten Klaten, Jawa Tengah.
Dalam keterangan resmi Badan Komunikasi Pemerintah (Bakom) RI, Eni mengaku usahanya berkembang sejak terlibat sebagai pemasok telur untuk program MBG. Sebelumnya, ia hanya menjual hasil ternaknya secara terbatas ke tetangga dan warung sekitar.
“Telur-telur ini saya jual pertama di tetangga-tetangga. Terus saya supply ke warung-warung. Terus sekarang ada program MBG, saya menawarkan di dapur untuk dijadikan di program MBG. Telurnya saya supply ke sana,” ujar Eni saat ditemui di kediamannya seperti dikutip dari Bakom RI , Rabu (22/4/2026).
Saat ini, produksi telur Eni mencapai sekitar 8–9 kilogram per hari, dengan harga jual mengikuti pasar di kisaran Rp26.000 hingga Rp27.000 per kilogram. Untuk memenuhi kebutuhan pasokan ke dapur MBG, ia mengumpulkan telur hingga mencapai 25–30 kilogram sebelum dikirim.
“Kan itu nggak setiap hari dikirim ke MBG. Kita kumpulin, nanti kalau ke MBG udah 25–30 kilo, saya baru anter,” jelasnya.
Menurutnya, kehadiran program MBG memberikan kepastian pasar sekaligus mempercepat perputaran modal usaha, terutama untuk pembelian pakan ternak.
“Kalau ada MBG itu saya nandu langsung ke MBG, uangnya muter buat beli pakan, gitu,” ungkapnya.
Sebelum adanya program tersebut, Eni harus aktif menawarkan dagangannya secara langsung, dari rumah ke rumah hingga ke warung, dengan hasil penjualan yang tidak selalu stabil. Kini, distribusi menjadi lebih terarah dan efisien.
Meski demikian, ia mengaku khawatir apabila program MBG dihentikan.
“Kalau di setop, ya saya bingung lagi. Harus kembali ke nol lagi. Saya harus jual ke tetangga. Saya nawarin lagi. Saya harus ke mana-mana, ke warung,” tuturnya.
Di luar aspek ekonomi, Eni juga menilai program MBG membawa manfaat besar bagi anak-anak, khususnya dalam pemenuhan kebutuhan gizi harian.
“Pak Prabowo terima kasih sudah mengasih program MBG ke anak-anak supaya anak-anak bisa sehat, makan. Kalau pagi-pagi kan langsung makan bersama. Kalau di rumah kadang makan, ada yang tidak, kan kasihan,” ucapnya.
Ia berharap program tersebut dapat terus berlanjut agar manfaatnya dirasakan lebih luas, baik oleh anak-anak maupun pelaku usaha kecil.
“Jadinya kalau bisa (MBG) diadakan terus, enggak usah disetop,” pungkas Eni.
Ke depan, Eni berencana menambah kapasitas produksi seiring meningkatnya kebutuhan dari program MBG. Saat ini, ia memelihara sekitar 200 ekor ayam petelur dengan produksi harian 8–9 kilogram telur dan baru mampu memasok kebutuhan untuk satu dapur MBG di wilayahnya.
