Jakarta – Wakil Menteri Dalam Negeri (Wamendagri) Akhmad Wiyagus menegaskan pentingnya keselarasan program antara pemerintah pusat dan daerah dalam upaya penanganan masalah kesehatan di Tanah Papua, khususnya penyakit AIDS, tuberkulosis, malaria (ATM), dan kusta.
“Kita tahu bahwa masalah kesehatan ini urusan pemerintah yang wajib dan terikat secara langsung dengan pelayanan dasar,” kata Wiyagus dalam keterangannya di Jakarta, Rabu (29/4/2026).
Kemenhub Sidak Pool Taksi Green SM di Bekasi, Dalami Aspek Keselamatan Usai Kecelakaan Kereta
Pernyataan tersebut disampaikan saat Rapat Koordinasi Teknis Percepatan Eliminasi AIDS, Tuberkulosis, Malaria, dan Kusta di Tanah Papua yang digelar di Kabupaten Jayapura.
Ia menekankan bahwa pemerintah daerah harus menjadikan sektor kesehatan sebagai prioritas utama, terutama dalam penguatan sumber daya manusia (SDM) yang sejalan dengan agenda pembangunan nasional dalam Astacita.
Wiyagus juga menyampaikan bahwa pemerintah pusat menunjukkan komitmen serius dalam meningkatkan kesehatan masyarakat Papua. Selain dukungan anggaran, pemerintah melalui Kementerian Kesehatan telah membentuk tim khusus untuk menangani penyakit ATM dan kusta.
Jenguk Korban Tragedi Kereta Bekasi, Prabowo Siapkan Rp4 Triliun untuk Benahi Lintasan Maut
“Ini tim besar diboyong semua ke sini untuk meyakinkan seluruh masyarakat Tanah Papua bahwa pemerintah pusat sangat serius untuk memperhatikan tentang kesehatan ini,” jelasnya.
Lebih lanjut, ia menguraikan sejumlah tanggung jawab pemerintah daerah dalam penanganan penyakit tersebut, mulai dari koordinasi program, penyediaan anggaran, percepatan deteksi kasus, pemberian pengobatan dan pencegahan, hingga mitigasi dampak psikososial dan ekonomi bagi pasien.
Menurutnya, Tanah Papua memiliki posisi strategis dalam pembangunan nasional, sehingga berbagai persoalan kesehatan yang masih dihadapi harus segera diatasi secara komprehensif.
“Semua pihak harus terlibat (dengan pendekatan) pentaheliks, pemerintah pusat, pemerintah daerah. Kemudian juga akademisi, kemudian juga seluruh NGO (organisasi nonpemerintah) juga harus terlibat di dalamnya,” ujarnya.
Di sisi lain, ia menyoroti pentingnya edukasi kepada masyarakat terkait penyakit ATM dan kusta agar penanganan dapat dilakukan sejak dini. Peran tokoh adat juga dinilai krusial dalam membantu menyampaikan pemahaman kepada masyarakat.
“Yang penting penanganannya sejak awal, ditangani secara spesifik, edukatif, biar kemudian masyarakat mudah mencerna,” tuturnya.
