Jakarta – Wakil Menteri Luar Negeri (Wamenlu) RI Arif Havas Oegroseno mengatakan pemerintah Indonesia terus memantau perkembangan konflik antara Amerika Serikat (AS) dan Iran, menyusul kembali ditutupnya Selat Hormuz, Rabu (10/6/2026). Ia menegaskan komunikasi diplomatik dengan pihak Iran tetap berjalan, meski situasi di kawasan semakin memanas.
“Kalau komunikasi ada terus, ada terus. Tapi kan kondisi politiknya kan memanas, ya, eskalasi gitu. Dan ya kita wait and see, terpaksa,” ujar Havas, Jumat (12/6/2026).
Terkait penutupan jalur strategis tersebut, Havas menyebut pemerintah tidak terlalu khawatir karena Indonesia telah melakukan diversifikasi sumber pasokan energi, termasuk dari kawasan Amerika Latin.
“So far oke, so far so good. Dan kita juga baru saja mendapatkan izin untuk melanjutkan operasi di Venezuela. Kita akan coba ke investasi di daerah-daerah sekitar Latin Amerika begitu,” ungkapnya.
Selain Amerika Latin, Indonesia juga disebut memperluas kerja sama pasokan energi dengan sejumlah negara di Afrika, seperti Aljazair, Nigeria, dan Angola.
“Kalau mengenai minyak, jadi strategi kita itu adalah sekarang ini kita mendapatkan pasokan dari kawasan yang tidak memerlukan lewat Hormuz. Jadi kita banyak kerjasama sekarang dengan Aljazair, Nigeria, Angola, di Afrika. Jadi banyak pasokan minyak dari Afrika,” imbuhnya.
Sebelumnya, ketegangan di Timur Tengah kembali meningkat setelah AS melancarkan serangan ke Iran, yang kemudian dibalas dengan langkah Iran menutup Selat Hormuz dan mengancam kapal-kapal yang melintas di jalur tersebut.
Komando militer Iran menyatakan seluruh aktivitas pelayaran di selat itu dihentikan total dan akan menjadi target serangan, memperburuk ketegangan di kawasan yang menjadi jalur vital perdagangan minyak dunia tersebut.
