Jakarta – Rocky Gerung mendatangi Polda Metro Jaya untuk memenuhi panggilan penyidik sebagai saksi ahli dalam perkara dugaan ijazah palsu mantan Presiden Joko Widodo. Kehadirannya, kata Rocky, murni untuk kepentingan akademik, bukan untuk membela atau memberatkan pihak tertentu.
Ia menegaskan pemeriksaannya tidak dimaksudkan untuk menguntungkan maupun merugikan siapa pun, termasuk Dokter Tifauziah serta dua tersangka lainnya. Fokusnya hanya pada penjelasan metodologi penelitian dan cara berpikir kritis.
“Enggak ada urusan memberatkan atau meringankan. Saya ingin menerangkan fungsi metode dalam meneliti dan mencurigai. Mencurigai itu bagian paling penting dari pengetahuan,” katanya kepada wartawan, Selasa, 27 Januari 2026.
Saat disinggung apakah keterangannya berkaitan dengan unsur ujaran kebencian atau pencemaran nama baik, Rocky menyatakan hal tersebut sepenuhnya tergantung pada materi pertanyaan dari penyelidik. Ia mengaku tidak ingin memengaruhi arah pemeriksaan.
“Tergantung yang ditanya. Kalau saya fokus di sini, nanti penyelidiknya tidak fokus,” ujarnya.
Rocky menjelaskan, posisinya sebagai saksi ahli dilandasi latar belakang akademik yang panjang. Ia menyebut telah bertahun-tahun mengajar metodologi serta mempelajari berbagai cabang ilmu, mulai dari matematika hingga neurosains.
“Saya mengajar metodologi bertahun-tahun. Saya membaca soal stem cell, fungsi neurotransmitter. Dugaan saya itu yang mau ditanya,” jelasnya.
Menurut Rocky, perdebatan merupakan hal wajar dalam dunia penelitian. Ia menilai perbedaan tafsir dalam riset tidak serta-merta dapat dikategorikan sebagai tindak pidana.
“Dimana ada pidana, ada metodologi. Tapi manusia itu memang diberi kapasitas untuk bertengkar. Semua orang yang meneliti akan bertengkar,” tuturnya.
Ia menambahkan, apabila tidak ditemukan unsur pidana, penyelesaian seharusnya ditempuh melalui mekanisme damai.
“Kalau enggak ada pidana, lakukan restorative justice. Jadi bukan kriminalisasi,” terangnya.
Terkait kajian dokumen ijazah, Rocky berpandangan bahwa riset pada dasarnya tidak pernah benar-benar selesai dan selalu terbuka terhadap data baru.
“Semua riset perlu waktu dan tidak mungkin berakhir. Riset Dokter Tifa, Rismon, Roy itu dimungkinkan oleh prosedur. Kalau prosedurnya belum selesai dan ada data baru, ya riset saja. Di mana pidananya,” ungkapnya.
Rocky menegaskan kehadirannya bukan untuk membela individu, melainkan untuk mempertahankan prinsip berpikir kritis.
“Saya mau membela bahwa ijazah itu asli. Ijazahnya asli. Orangnya yang palsu. Semua ijazah pasti asli. Kesalahan kalian itu minta Jokowi tunjukkan ijazah aslinya. Harusnya tanya, mana yang palsu,” ucapnya.
Ia juga menekankan bahwa warga negara memiliki hak untuk mempertanyakan pejabat publik, termasuk Presiden.
“Tiga orang ini bertanya, ‘ijazahmu mana, asli atau palsu?’ Pertanyaan warga negara pada kepala negara harus dijawab. Kepala negara itu pelayan warga,” bebernya.
Menurut Rocky, polemik ijazah Jokowi bukan persoalan baru dan telah berlangsung cukup lama. Ia mengaku sudah mengikuti kasus tersebut sejak awal sebagai saksi ahli.
“Ini peristiwa yang dicicil dua tahun lalu. Saya sudah hafal logika kekuasaan dan legal reasoning-nya,” imbuhnya.
Di akhir pernyataannya, Rocky turut menyinggung sisi psikologis Presiden Jokowi. Ia menilai terlalu sering mengikuti polemik melalui ponsel dapat memicu stres.
“Pak Jokowi bermasalah karena tiap hari lihat HP. Lihat muka Rizmon, muka Tifa, itu bikin stres,” ujarnya.
Ia pun menyarankan agar Presiden menjaga ketenangan dengan meningkatkan hormon penenang alami dalam tubuh.
“Oksitosin itu hormon dari hipotalamus yang bikin rasa tenang. Endorfin juga,” tuturnya.
