Jakarta – Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) terus memacu optimalisasi komoditas perikanan nasional. Salah satu langkah konkretnya adalah dengan menggeber Tambak Budi Daya Udang Berbasis Kawasan (BUBK) di Kebumen, Jawa Tengah, yang diproyeksikan menjadi percontohan budi daya udang modern terbesar di Tanah Air.
Juru Bicara KKP, Ayu Rahmawati menegaskan, BUBK Kebumen disiapkan sebagai motor penggerak utama untuk mendongkrak volume produksi udang nasional demi menguasai pasar ekspor global.
“Indonesia memiliki tambak udang terbesar yang berlokasi di Kebumen. BUBK Kebumen ini menjadi salah satu program unggulan KKP untuk mendorong produksi udang nasional, mengingat udang merupakan salah satu komoditas ekspor perikanan terbesar dan andalan Indonesia di pasar global,” tutur Ayu Rahmawati.
Kawasan budi daya canggih seluas 100 hektare ini didirikan di atas lahan tambak tak produktif. Saat ini, BUBK Kebumen telah mengoperasikan 24 hektare kolam efektif yang terbagi dalam 139 petak produksi.
Panen Melimpah dan Kerap Sabet Hasil Maksimal
Keandalan model budi daya modern ini terbukti dari produktivitasnya pada siklus ke-8:
* Panen Tahap 2: Dilakukan di 37 petak dengan hasil mencapai 75 ton.
* Panen Akhir (Juli 2026): Memanen 70 petak dengan estimasi produksi 90 ton.
* Total Produksi Siklus ke-8: Tembus di angka fantastis 254,5 ton.
Serap Listrik dan Tenaga Kerja Lokal, Ekonomi Warga Meringkuk Naik
Tak cuma mendongkrak angka ekspor, kehadiran BUBK Kebumen turut memberikan multiplier effect yang signifikan bagi perekonomian warga lokal. Tambak raksasa ini tercatat telah menyerap 645 tenaga kerja lokal dari desa-desa sekitar, yang terdiri dari 145 pekerja tetap dan 500 pekerja harian lepas.
Aktivitas operasional tambak ini pun berhasil menghidupkan ekosistem bisnis warga setempat—mulai dari menjamurnya warung makan, toko kelontong, jasa transportasi, penyedia sarana tambak, hingga penginapan di sekitar kawasan.
