Jakarta – Sekretaris Jenderal DPP PDI Perjuangan, Hasto Kristiyanto, mengimbau generasi muda dan kalangan mahasiswa untuk mendalami pemikiran geopolitik Bung Karno. Pemahaman ini dinilai fundamental guna memperkokoh wawasan kebangsaan sekaligus membaca arah serta posisi strategi Indonesia di kancah internasional.
“Geopolitik mengajarkan pengetahuan dan kajian tentang konstelasi geografis yang berkaitan dengan perjuangan kepentingan nasional suatu bangsa. Bung Karno mengajarkan bagaimana kepentingan nasional itu muncul dari pemahaman aspek historis, geografis, geostrategis, dan geoekonomi kita,” kata Hasto dikutip, Minggu (8/11/2026).
Pernyataan tersebut disampaikan Hasto saat mengisi Pelatihan Penguatan Literasi Geopolitik bagi Generasi Z bertajuk “Memahami Dunia, Memperkuat Indonesia” yang berlangsung di Aula Soekarno, Kampus Universitas Bung Karno (UBK), Cikini, Jakarta Pusat.
Wamen HAM Desak Percepatan RUU Penyadapan
Hasto menegaskan bahwa konsepsi geopolitik Soekarno senantiasa menyatukan realitas sosial di tingkat tapak dengan pusaran politik global. Maka dari itu, anak muda dituntut memiliki wawasan yang utuh demi menjembatani kondisi riil masyarakat, target kepentingan nasional, dan dinamika mancanegara.
“Ketika mahasiswa bertemu dengan rakyat dan melihat dinamika kehidupan rakyat, hal itu tidak terlepas dari pandangan kebangsaan, wawasan global, serta perspektif historisnya,” tambah Hasto.
Ia juga menguraikan bahwa bentang wilayah kepulauan Indonesia dari Sabang sampai Merauke di mata Soekarno bukan sekadar garis batas wilayah hukum, melainkan satu kesatuan cita-cita besar untuk membangun bobot kekuatan nasional. Lewat visi tersebut, Indonesia diproyeksikan sebagai poros maritim tangguh di Samudra Hindia yang mampu memimpin peradaban di kawasan Pasifik.
“Mengapa Bung Karno menyebut dari Sabang sampai Merauke bukan hanya satu national state, tetapi juga satu kesatuan cita-cita? Yakni visi menjadi negara terbesar di Samudra Hindia yang menatap masa depan di Pasifik, serta mengapa ilmu pengetahuan menjadi instrumen penting agar kita bisa menjadi bangsa pemimpin? Itulah pentingnya literasi geopolitik ini,” tuturnya.
Lebih jauh, Hasto mencontohkan keberhasilan manuver diplomasi era Soekarno yang mampu menggerakkan instrumen kekuatan nasional demi menghentikan praktik kolonialisme global. Jejak tersebut terekam nyata lewat gelaran Konferensi Asia Afrika (KAA), pembentukan Gerakan Non-Blok (GNB), hingga penggalangan Conference of the New Emerging Forces (Conefo) dan Ganefo.
Pelatihan di UBK ini turut menghadirkan jajaran akademisi serta pakar sejarah seperti Andi Widjajanto, Margaretha Hanita, dan Bonnie Triyana. Hasto berharap ruang belajar ini mampu memantik kesadaran geopolitik para peserta.
“Pelajari pemikiran geopolitik Bung Karno, maka Anda akan punya arah masa depan,” tandasnya.
