Jakarta – Satu bulan setelah banjir dan longsor melanda Aceh Tamiang, denyut kehidupan warga mulai kembali terasa. Di tengah puing dan proses pemulihan, sebuah warung kopi sederhana menjadi simbol kecil kebangkitan ekonomi lokal.
Rina Riana, pemilik warung kopi dan mi di kawasan terdampak, kembali berjualan sejak lima hari terakhir. Usahanya sempat terhenti akibat banjir yang merusak bangunan dan peralatan usaha.
“Alhamdulillah sudah mulai buka lagi. Memang belum normal, tapi pelan-pelan,” ujar Rina.
Sebagian dinding warungnya sempat jebol diterjang banjir. Renovasi dilakukan seadanya agar usaha bisa kembali berjalan. Menu makanan kini hampir lengkap, meski peralatan kopi berbasis mesin belum bisa digunakan.
“Kopi mesin belum ada, jadi masih manual dulu,” katanya.
Keterbatasan juga masih terasa pada fasilitas pendukung seperti jaringan internet. Namun hal itu tak menyurutkan minat warga sekitar untuk kembali singgah.
“Lumayan ramai. Mungkin orang-orang juga rindu nongkrong setelah lama di pengungsian,” ucap Rina.
Ia berupaya menjaga harga tetap terjangkau di tengah kondisi ekonomi masyarakat yang belum sepenuhnya pulih.
“Harganya masih normal. Kita sama-sama lagi susah,” katanya.
Meski belum bisa menghitung omzet secara pasti, Rina memilih untuk tidak menunggu kondisi benar-benar pulih.
“Yang penting mulai dulu. Kita harus bangkit,” tuturnya.
Kisah Rina mencerminkan semangat warga Aceh Tamiang yang perlahan menata ulang kehidupan—dimulai dari secangkir kopi dan warung kecil yang kembali menyala.
