Jakarta – Wakil Ketua DPR RI Sufmi Dasco Ahmad mengapresiasi langkah Bank Indonesia (BI) dalam memperluas penggunaan mata uang lokal pada transaksi internasional. Kebijakan tersebut dinilai mampu memperkuat posisi rupiah sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap dolar Amerika Serikat dalam perdagangan global.
Menurut Dasco, upaya tersebut diwujudkan melalui penandatanganan Bilateral Currency Swap Arrangement (BCSA) antara Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo dan Gubernur People’s Bank of China (PBOC) Pan Gongsheng.
“Kesepakatan tersebut membuka ruang yang lebih luas bagi penggunaan rupiah dan renminbi dalam transaksi antara Indonesia, China Daratan, dan Hong Kong sehingga dapat mengurangi ketergantungan terhadap dolar AS,” kata Dasco dalam keterangan tertulis yang diterima di Jakarta, Senin, 15 Juni 2026.
Kesepakatan strategis tersebut ditandatangani dalam pertemuan tingkat tinggi yang berlangsung di Shanghai, Tiongkok, dilansir, Senin (15/6/2026).
Selain itu, Bank Indonesia dan otoritas terkait juga memperluas cakupan Memorandum of Understanding (MoU) mengenai Local Currency Transaction (LCT) hingga mencakup Hong Kong. Penandatanganan kerja sama tersebut turut melibatkan Chief Executive Hong Kong Monetary Authority (HKMA), Eddie Yue.
LCT merupakan mekanisme penyelesaian transaksi bilateral antarindividu maupun pelaku usaha dari dua negara dengan menggunakan mata uang lokal masing-masing tanpa melalui dolar AS sebagai mata uang perantara.
Dasco menjelaskan bahwa kerja sama tersebut juga mencakup pengembangan sistem pembayaran QRIS lintas batas antara Indonesia dan China. Dengan sistem tersebut, transaksi digital antar pelaku usaha maupun masyarakat kedua negara dapat dilakukan secara lebih mudah dan efisien.
“Sistem ini sudah melibatkan 191 penyedia layanan di China dan 24 di Indonesia yang seluruhnya telah terhubung,” ujarnya.
Ia menilai kolaborasi antara Bank Indonesia dan People’s Bank of China akan semakin mendorong pemanfaatan skema LCT dalam aktivitas perdagangan kedua negara.
Menurut Dasco, penggunaan mata uang lokal secara langsung dalam transaksi perdagangan dapat mengurangi kebutuhan penggunaan dolar AS dan meningkatkan efisiensi biaya transaksi.
Berdasarkan data yang disampaikan, nilai perdagangan antara Indonesia dan China pada 2025 mencapai sekitar 155,5 miliar dolar AS. Karena itu, diperlukan sistem transaksi yang lebih efektif dan mampu mendukung peningkatan volume perdagangan kedua negara.
“Ini merupakan upaya yang sangat serius untuk mengurangi kebutuhan penggunaan dolar Amerika Serikat dalam transaksi perdagangan, termasuk melalui penerapan QRIS lintas batas antara Indonesia dan China. Langkah ini dilakukan BI untuk memperkuat rupiah,” tegas Dasco.
Ia berharap langkah yang dilakukan Bank Indonesia tersebut dapat memperkuat stabilitas rupiah sekaligus meningkatkan daya saing Indonesia dalam sistem perdagangan dan keuangan internasional.
