BNPB Uji Teknologi Dry Ice untuk Atasi Asap Karhutla di Sumsel dan Kalteng, Begini Cara Kerjanya

Jakarta – Pemerintah mulai menguji penggunaan dry ice atau es kering dalam operasi modifikasi cuaca (OMC) di Sumatera Selatan dan Kalimantan Tengah. Teknologi ini diterapkan sebagai salah satu upaya untuk mengurangi dampak asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang melanda kedua wilayah tersebut.

Pelaksana Tugas (Plt) Kepala Pusat Data, Informasi, dan Komunikasi Kebencanaan Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB), Berton Panjaitan, menjelaskan bahwa pemanfaatan es kering menjadi alternatif dalam teknologi penyemaian awan. Metode ini melengkapi teknik konvensional yang menggunakan garam atau natrium klorida (NaCl).

Menurut Berton, suhu es kering yang sangat rendah berpotensi mempercepat pembentukan kristal es di dalam awan. Proses tersebut diharapkan dapat membantu terbentuknya presipitasi atau hujan.

“Es ini sifatnya sangat solid dan temperaturnya sangat ekstrem, bisa di bawah minus 78 derajat Celsius. Ini merupakan karbon dioksida yang padat. Suhu dinginnya secara cepat dapat memicu pembentukan kristal es di awan hingga turun menjadi hujan secara alami dan ramah lingkungan,” ujar Berton dalam konferensi pers, Selasa (20/10).

BNPB Kerahkan Dry Ice dan Garam di Dua Provinsi

Dalam pelaksanaan OMC pada 19 Oktober 2026, BNPB mencatat sejumlah penerbangan untuk penyemaian awan di Kalimantan Tengah dan Sumatera Selatan. Kedua wilayah tersebut menggunakan kombinasi dry ice dan garam dengan jumlah serta frekuensi penyemaian yang berbeda.

Di Kalimantan Tengah, kegiatan dilakukan melalui lima sorti penerbangan. Total bahan yang digunakan terdiri atas 1.600 kilogram dry ice dan 300 kilogram garam.

Sementara itu, operasi di Sumatera Selatan berlangsung dalam tiga sorti. Dua penerbangan menggunakan total 1.600 kilogram dry ice, sedangkan satu penerbangan lainnya menggunakan 800 kilogram garam.

Berton menyampaikan bahwa penggunaan dry ice diharapkan menghasilkan dampak yang relatif cepat teramati. Salah satu indikator yang diperhatikan adalah membaiknya jarak pandang atau *visibility* di wilayah yang terdampak asap.

“Keuntungan dari dry ice ini, dampaknya bisa segera kita lihat, di mana visibility atau jarak pandang membaik. Tentu, dry ice ini bisa menarik bibit-bibit air, sehingga berpotensi menemukan hujan di angkasa, sehingga OMC juga bisa dilaksanakan dengan segera,” jelasnya.

Melalui uji coba tersebut, pemerintah berupaya mengeksplorasi alternatif teknologi untuk mendukung penanganan dampak karhutla. Meski demikian, efektivitas pelaksanaannya tetap perlu mempertimbangkan kondisi cuaca dan perkembangan atmosfer di masing-masing wilayah.

Tidak Semua Wilayah Bisa Dilakukan Modifikasi Cuaca

Berton menegaskan bahwa operasi modifikasi cuaca tidak dapat dilaksanakan secara sembarangan. Keberhasilan penyemaian sangat dipengaruhi oleh kondisi atmosfer, terutama keberadaan awan yang memenuhi persyaratan untuk dilakukan penyemaian.

Ketersediaan awan yang sesuai menjadi salah satu faktor penentu apakah operasi dapat dijalankan. Karena itu, meskipun suatu daerah membutuhkan hujan untuk membantu penanganan karhutla, penyemaian tidak selalu memungkinkan dilakukan setiap saat.

Ia mencontohkan pelaksanaan OMC di Riau yang telah dihentikan setelah hujan alami mulai terjadi. Sebaliknya, operasi di Jambi tidak dapat dilaksanakan karena kondisi awan dinilai belum mendukung.

“Untuk OMC di Riau sudah berakhir pada 25 September 2026, karena memang di sana sudah ada hujan alami yang terjadi. Sedangkan di Jambi kita tidak bisa melakukan penyemaian ataupun melakukan OMC, mengingat di sana tidak ada awan yang kurang mendukung, serta adanya feasibility yang relatif rendah,” kata dia.

Pemerintah melalui BNPB terus mempertimbangkan kondisi cuaca dan kelayakan atmosfer dalam menentukan pelaksanaan OMC. Penggunaan dry ice di Sumatera Selatan dan Kalimantan Tengah menjadi bagian dari upaya mencari pendekatan tambahan untuk mendukung penanganan asap karhutla.

Namun, penerapan teknologi tersebut tetap bergantung pada kondisi alam dan ketersediaan awan yang sesuai. Oleh sebab itu, hasil uji coba perlu dinilai berdasarkan perkembangan cuaca dan dampak yang teramati di lapangan.

Berita Lainnya

Menko Polkam Dudung Ingatkan soal Kebebasan Berpendapat, Ini Pesannya kepada Masyarakat

Jakarta - Pemerintah menegaskan pentingnya menjaga kebebasan menyampaikan pendapat sebagai hak konstitusional warga negara. Meski demikian, kebebasan tersebut perlu dijalankan dengan tanggung jawab, menjunjung...

2 Tahun Prabowo Memimpin, Deretan Alutsista Canggih Ini Siap Ubah Kekuatan Militer...

Jakarta - Penguatan pertahanan menjadi salah satu sorotan dalam dua tahun pemerintahan Presiden Prabowo Subianto. Sejumlah alat utama sistem persenjataan (alutsista) baru mulai memperkuat...

Pemerintah Siapkan 4 Langkah Pembenahan MBG, dari Insentif SPPG hingga Sistem Prasmanan

Jakarta - Pemerintah menyiapkan empat langkah prioritas untuk memperbaiki pelaksanaan Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang telah berjalan sejak Januari 2025. Pembenahan tersebut mencakup...

Stay Connected

0FansSuka
0PengikutMengikuti
0PelangganBerlangganan
- Advertisement -

FEED NEWS