Jakarta – Menteri Agraria dan Tata Ruang/Kepala Badan Pertanahan Nasional (ATR/BPN), Nusron Wahid, mengajak mahasiswa untuk memahami konsep nasionalisme secara komprehensif sebagai upaya memperkuat persatuan dan ketahanan bangsa di tengah berbagai tantangan global.
Hal tersebut disampaikan Nusron saat menjadi keynote speaker pada pembukaan Diklat Pratama se-Indonesia Angkatan I yang diselenggarakan Dewan Pimpinan Pusat Gerakan Mahasiswa Pelajar Kebangsaan (DPP GMPK) di Bogor, Jawa Barat, dikutip, Minggu (5/7/2026).
“Tujuan nasionalisme adalah menjadikan kita bangsa yang kuat. Namun, kalau kita tidak memahami seperti apa bangsa yang kuat, kita akan keliru mendefinisikan format nasionalisme yang ingin kita bangun,” kata Menteri Nusron.
Dalam pemaparannya yang bertajuk “Nasionalisme Abad ke-21: Menjawab Tantangan Radikalisme, Perang Ekonomi, dan Perebutan Pengaruh Global”, Nusron menjelaskan bahwa kekuatan suatu bangsa pada era modern tidak lagi semata-mata ditentukan oleh sistem pemerintahan, tetapi juga oleh kemampuan menghadapi dinamika dan tantangan global.
Mengacu pada teori yang dikemukakan John Mearsheimer, Nusron menyebut terdapat tiga pilar utama yang harus dimiliki sebuah negara agar dapat menjadi bangsa yang kuat, yakni ketahanan pangan, kemandirian energi, serta penguasaan teknologi.
“Jangan hanya berbicara nasionalisme, tetapi bangun ketahanan pangan, kemandirian energi, dan kemampuan menguasai teknologi. Tanpa itu, bangsa akan mudah bergantung kepada negara lain,” tegas Menteri Nusron yang hadir dalam diklat bersama dengan Kepala Biro Hubungan Masyarakat dan Protokol, Achmad.
Menurut Nusron, ketiga pilar tersebut hanya dapat diwujudkan apabila didukung oleh sumber daya manusia yang berkualitas. Oleh karena itu, pembangunan semangat nasionalisme harus berjalan seiring dengan penguatan kapasitas intelektual generasi muda.
Di hadapan Sekretaris Dewan Pembina DPP GMPK H. Chusni Mubarok dan sekitar 200 peserta diklat, Nusron menekankan pentingnya peran mahasiswa sebagai kelompok intelektual yang memiliki kontribusi strategis dalam menentukan arah pembangunan bangsa.
“Perubahan di dunia itu selalu didahului dengan kebangkitan kaum intelektualnya. Ketika cara berpikir mahasiswa sudah benar, maka saat mereka menjadi birokrat, politisi, pengusaha, maupun profesional, cara berpikir itu akan ikut membentuk kemajuan bangsa,” jelasnya.
Sebelum menutup pemaparannya, Nusron mengajak kader dan generasi muda GMPK untuk terus meningkatkan kapasitas diri, baik dari sisi intelektual maupun semangat kebangsaan, sehingga mampu melahirkan gagasan serta solusi bagi berbagai persoalan nasional.
