Syam Basrijal: Udara Bersih Jakarta Harus Dimulai dari Reformasi Sistem Energi Nasional

Jakarta– Direktur PT Gema Aset Solusindo, Syam Basrijal, menilai persoalan polusi udara di Jakarta tidak dapat lagi diselesaikan hanya melalui kebijakan jangka pendek. Menurutnya, perbaikan kualitas udara membutuhkan keberanian politik untuk mempercepat transisi energi serta investasi pada pembangkit listrik berbasis energi terbarukan.

Syam pun mengatakan bahwa berbagai langkah yang selama ini ditempuh pemerintah, seperti imbauan penggunaan masker, penerapan work from home (WFH), rekayasa cuaca, uji emisi kendaraan, hingga pembatasan lalu lintas, hanya mampu meredam dampak polusi untuk sementara waktu.

“Polusi udara Jakarta terus berulang dari tahun ke tahun dengan pola yang hampir sama. Ini menunjukkan bahwa persoalan yang dihadapi Jakarta bukan lagi sekadar masalah lalu lintas perkotaan, melainkan masalah struktural dari sistem energi dan industri yang menopang aktivitas ekonomi nasional,” ujar Syam di Jakarta, Rabu (1/7/2026).

Ia menjelaskan Jakarta berada dalam sistem kelistrikan Jawa-Bali yang menjadi pusat pasokan energi bagi kawasan industri, pemerintahan, transportasi, pelabuhan, hingga pusat data nasional. Namun, menurutnya, dominasi pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) berbahan bakar batu bara masih menjadi penyumbang utama emisi pencemar udara.

“Hingga hari ini, PLTU batubara masih mendominasi sekitar 70 persen sistem kelistrikan Jawa-Bali. Artinya, fondasi energi yang menopang pertumbuhan ekonomi Indonesia masih bertumpu pada pembakaran energi fosil dalam skala masif. Ketika ketergantungan terhadap PLTU batubara tetap tinggi, maka polusi udara Jakarta pada dasarnya tidak pernah benar-benar selesai,” katanya.

Syam mengingatkan bahwa dampak polusi udara tidak lagi hanya menjadi persoalan lingkungan, melainkan telah berkembang menjadi isu kesehatan masyarakat dan kualitas sumber daya manusia.

Ia menyebut berbagai penelitian internasional menunjukkan keterkaitan antara emisi PLTU batu bara dengan meningkatnya risiko penyakit jantung, stroke, gangguan paru-paru kronis, hingga kematian dini akibat paparan partikel halus PM2.5.

“Dalam konteks Jakarta, masalah ini telah melampaui isu lingkungan semata. Ini telah menjadi isu ketahanan manusia, kualitas hidup, dan masa depan generasi perkotaan Indonesia,” ujarnya.

Di sisi lain, Syam melihat Indonesia tengah memiliki peluang besar untuk mempercepat transisi energi. Ia menyoroti Rencana Usaha Penyediaan Tenaga Listrik (RUPTL) PLN 2025–2034 yang memproyeksikan kebutuhan investasi sektor ketenagalistrikan mencapai sekitar 183 hingga 188 miliar dolar Amerika Serikat.

Menurutnya, arah investasi yang mulai berfokus pada energi terbarukan dan sistem penyimpanan energi atau Battery Energy Storage System (BESS) menjadi fondasi penting menuju sistem energi yang lebih berkelanjutan.

“Yang sering dilupakan, transisi energi bukan sekadar proyek kelistrikan. Ia adalah peluang ekonomi nasional dalam skala besar,” tutur Syam.

Ia menilai pengembangan pembangkit listrik tenaga surya (PLTS) yang dipadukan dengan BESS berpotensi menciptakan lapangan kerja baru, memperkuat industri baterai nasional, mempercepat hilirisasi mineral strategis seperti nikel, sekaligus meningkatkan daya tarik investasi berbasis prinsip Environmental, Social, and Governance (ESG).

Berita Lainnya

Sempat Dampingi Prabowo di Lubang Buaya, Sigit Diganti Kapolri

Jakarta - Jenderal Listyo Sigit Prabowo masih mendampingi Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka dalam rangkaian peringatan Hari Kesaktian Pancasila di...

RUU Reforma Agraria, Embun Sari: Atasi Konflik Pertanahan

Jakarta - Rancangan Undang-Undang (RUU) tentang Pengaturan Reforma Agraria telah disepakati pemerintah dan DPR RI untuk dibawa ke tahap pengesahan menjadi Undang-Undang. Direktur Jenderal Penataan...

Prabowo Resmikan Renovasi Museum Kesaktian Pancasila di Lubang Buaya

Jakarta - Presiden Prabowo Subianto mengunjungi Museum Kesaktian Pancasila di kawasan Lubang Buaya, Jakarta Timur, setelah memimpin Upacara Peringatan Hari Kesaktian Pancasila, Kamis (1/10/2026). Dalam...

Stay Connected

0FansSuka
0PengikutMengikuti
0PelangganBerlangganan
- Advertisement -

FEED NEWS