Jakarta – Presiden Prabowo Subianto menegaskan komitmen pemerintah untuk memperkuat kemandirian nasional di tengah situasi global yang masih dipenuhi ketidakpastian. Menurutnya, Indonesia harus mampu mengandalkan kekuatan sendiri agar tetap tangguh menghadapi berbagai tantangan ekonomi dan geopolitik dunia.
Dalam pernyataannya kepada The Economist, Prabowo menjelaskan bahwa kondisi internasional saat ini sedang menghadapi dinamika yang kompleks. Berbagai konflik dan ketegangan geopolitik telah memicu gejolak pada sektor energi, pangan, hingga pasar keuangan global.
Meski demikian, ia menilai kondisi tersebut justru menjadi momentum penting bagi Indonesia untuk mempercepat langkah menuju kemandirian ekonomi dan memperkuat fondasi pembangunan nasional.
“Masa-masa yang penuh ketidakpastian seperti ini menuntut akal sehat, akal sehat untuk mendukung dan memajukan rakyat maupun perekonomian kita,” ujar Prabowo seperti dikutip, Kamis (11/6/2026).
Prabowo menyampaikan bahwa pemerintah terus berupaya menjaga kepentingan nasional melalui berbagai kebijakan strategis. Salah satu langkah yang dilakukan adalah memperkuat disiplin fiskal dengan melakukan efisiensi anggaran yang tidak prioritas hingga lebih dari Rp300 triliun.
Selain itu, pemerintah juga mendorong digitalisasi sistem perpajakan, memperbaiki tata kelola ekspor, memperketat pengawasan terhadap praktik penyelundupan, serta menjaga defisit Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) tetap dalam batas yang terkendali.
Menurutnya, berbagai kebijakan tersebut menjadi bagian dari upaya memperkuat ketahanan ekonomi Indonesia dalam menghadapi tekanan global yang terus berkembang.
Perkuat Ketahanan Energi Nasional
Prabowo menegaskan bahwa pemerintah tidak hanya fokus pada stabilitas ekonomi jangka pendek, tetapi juga berinvestasi untuk memperkuat kedaulatan dan ketahanan nasional dalam jangka panjang.
Dalam sektor energi, pemerintah saat ini terus mendorong implementasi program B50, memperluas pemanfaatan energi terbarukan, membangun fasilitas kilang baru, serta memperkuat cadangan bahan bakar strategis nasional. Langkah tersebut dilakukan untuk mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap impor energi.
Di tengah berbagai tantangan global, Prabowo menilai kondisi ekonomi Indonesia masih menunjukkan daya tahan yang cukup baik. Ia menyoroti capaian pertumbuhan ekonomi nasional pada kuartal pertama tahun 2026 yang mencapai 5,61 persen secara tahunan.
Selain itu, kondisi fiskal Indonesia juga dinilai tetap sehat dengan rasio defisit anggaran yang terjaga di bawah 3 persen terhadap Produk Domestik Bruto (PDB).
“Indonesia tetap tangguh. Pada kuartal pertama tahun 2026, Indonesia mencatat pertumbuhan ekonomi tertinggi kedua di antara negara-negara G20 setelah India. Defisit anggaran kami tetap berada di bawah 3 persen dari PDB, sementara rasio utang terhadap PDB jauh lebih rendah dibandingkan banyak negara maju,” jelas dia.
Transformasi Nasional Butuh Ketekunan
Prabowo mengakui bahwa proses transformasi nasional menuju kemandirian tidak akan berlangsung mudah. Berbagai tantangan diperkirakan akan muncul seiring upaya pemerintah melakukan perubahan di berbagai sektor strategis.
Menurutnya, pengalaman banyak negara menunjukkan bahwa transformasi berskala besar hampir selalu menghadapi hambatan dan tidak pernah berjalan sepenuhnya sempurna.
Namun demikian, ia menegaskan bahwa langkah tersebut tetap harus ditempuh agar Indonesia mampu memaksimalkan seluruh potensinya dan mengurangi ketergantungan terhadap pihak luar.
“Kami bertekad agar negara ini tidak lagi didefinisikan oleh keraguan, ketergantungan, atau kinerja yang kurang memuaskan,” pungkasnya.
