Jakarta – Pemerintah Kota (Pemkot) Bekasi tengah menyiapkan langkah baru untuk meningkatkan keselamatan di perlintasan kereta api dengan memasang alat pendeteksi kedatangan kereta.
Kebijakan ini menyusul insiden tabrakan antara Commuter Line dan KA jarak jauh Argo Bromo Anggrek, Senin (27/4/2026) sekitar pukul 20.30 WIB, yang menimbulkan korban jiwa dan luka-luka.
Wali Kota Bekasi, Tri Adhianto menjelaskan, alat tersebut akan bekerja menyerupai fungsi palang pintu, namun tanpa menutup akses jalan.
“Sedang saya inisiasi, kami menggunakan elektrik, tapu bukan untuk menutup pintu, tapu elektriknyanya nanti kami buat ada semacam suara,” terang Tri, Sabtu (2/5/2026).
Ia menambahkan, sistem ini akan memberikan peringatan dini kepada pengguna jalan melalui bunyi alarm ketika kereta berada dalam jarak sekitar 500 meter dari titik pemasangan alat.
Cak Sebut Perusahaan Wajib Lindungi Pekerja Lewat Jaminan Sosial Usai Tragedi KRL–Argo Bromo
Untuk merealisasikan program tersebut, Pemkot Bekasi akan menggandeng Dinas Komunikasi, Informatika dan Persandian (Diskominfosandi).
“Alat itu nantinya akan mengirimkan sinyal pada saat kereta lewat, alat itu berbunyi, jadi kereta lewat mungkin dari kurang 500 meter walaupun sinyalnya bunyi, sehingga memberikan peringatan agar kendaraan untuk tidak kemudian memaksakan diri melewati jalan yang ada,” paparnya.
Tri menyebutkan, pemasangan tahap awal akan dilakukan di kawasan Bulak Kapal, kemudian dilanjutkan ke wilayah Ampera.
Ia juga menargetkan alat tersebut dapat segera dioperasikan dalam waktu dekat.
“Sekarang dikaji oleh Diskominfo. Mudah-mudahan dalam waktu satu minggu ini bisa sudah terealisasi. Sehingga suara muncul, sehingga menjadi alarm,” tutupnya.
