Dapur MBG Gerakkan Ekonomi Kecil, Perajin Tempe Jakarta Timur Ikut Panen Manfaat

Jakarta – Di sudut kawasan Kramat Jati, Jakarta Timur, aktivitas produksi tempe di sebuah pabrik rumahan tampak berjalan lebih sibuk dari biasanya. Tumpukan kedelai yang siap diolah, pekerja yang hilir mudik, hingga aroma khas fermentasi menjadi penanda meningkatnya permintaan dalam beberapa waktu terakhir.

Pabrik tempe “Super Raos” menjadi salah satu pelaku usaha kecil yang merasakan dampak langsung dari program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang digagas pemerintah sejak awal 2025. Program yang bertujuan meningkatkan asupan gizi masyarakat itu ternyata juga memberi efek domino bagi sektor usaha mikro.

Pemilik usaha, Ijan mengaku permintaan tempe produksinya meningkat sejak mulai menyuplai ke dapur MBG atau Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) di wilayah Jakarta Timur. Saat ini, ia rutin memasok ke dua dapur MBG yang berada di kawasan Matraman dan Condet.

“Alhamdulillah, sejak ada program MBG, pendapatan kami ikut bertambah. Sekarang sudah ada beberapa dapur yang jadi langganan,” ujarnya saat ditemui di lokasi produksi.

Bagi Ijan, program MBG bukan sekadar bantuan pangan bagi masyarakat, tetapi juga membuka peluang ekonomi baru bagi pelaku usaha kecil seperti dirinya. Ia merasakan adanya peningkatan omzet yang cukup signifikan dibanding sebelumnya.

“Saya pribadi sangat terbantu. Dengan adanya program ini, usaha jadi lebih hidup, pesanan juga lebih stabil,” katanya.

Menurutnya, keberlanjutan program ini akan sangat berpengaruh terhadap roda usaha kecil di tingkat bawah. Ia berharap distribusi bahan pangan untuk dapur MBG terus melibatkan pelaku usaha lokal agar manfaatnya semakin luas.

Tak hanya meningkatkan pendapatan, kerja sama dengan dapur MBG juga memberi kepastian pasar bagi produksi tempe miliknya. Hal ini menjadi penting, terutama di tengah fluktuasi harga bahan baku dan persaingan pasar.

“Harapannya program ini terus berjalan. Bukan hanya untuk masyarakat yang menerima manfaat, tapi juga untuk kami para pelaku usaha kecil,” ucap Ijan.

Fenomena ini menunjukkan bahwa program berbasis sosial seperti MBG memiliki dampak berlapis. Selain menjawab kebutuhan gizi masyarakat, kebijakan ini turut menggerakkan ekonomi akar rumput—mulai dari petani, distributor, hingga produsen makanan lokal.

Di balik sepiring makanan bergizi yang diterima masyarakat, ada rantai ekonomi yang ikut bergerak. Dan di salah satu mata rantai itu, para perajin tempe seperti Ijan kini merasakan bahwa kebijakan publik bisa benar-benar hadir hingga ke dapur produksi mereka.

Berita Lainnya

Pemerintah Wanti-wanti Modus Haji Tanpa Antre, Risiko Sanksi Berat Mengintai

Jakarta - Pemerintah kembali mengingatkan masyarakat untuk tidak mudah percaya pada tawaran ibadah haji tanpa antre yang marak beredar. Skema semacam itu dipastikan tidak...

Pemerintah Tunggu DPR Rampungkan RUU Pemilu, Target Pembahasan Dikebut

Jakarta - Pemerintah masih menanti penyelesaian draf Rancangan Undang-Undang (RUU) Pemilu yang saat ini tengah digodok di DPR RI. Hal ini disampaikan Menteri Koordinator...

Revitalisasi SMPN 3 Jiken Jadi Sumber Nafkah Baru, Warga Rasakan Dampak Nyata

Jakarta - Proyek revitalisasi SMP Negeri 3 Jiken di Desa Jiwarejo, Kecamatan Jiken, Kabupaten Blora, tak hanya menghadirkan bangunan yang lebih layak, tetapi juga...

Stay Connected

0FansSuka
0PengikutMengikuti
0PelangganBerlangganan

FEED NEWS