Jakarta — Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, menyatakan bahwa negaranya siap memfasilitasi pelayaran kapal-kapal Jepang melalui Selat Hormuz, meskipun ketegangan kawasan tengah meningkat akibat konflik bersenjata.
Dalam wawancara dengan Kyodo News, Araghchi menegaskan bahwa jalur vital pengiriman energi dunia tersebut masih terbuka.
“Kami belum menutup selat tersebut. Selat itu tetap terbuka,” ujarnya.
Meski demikian, Iran mengakui telah memberlakukan pembatasan terhadap kapal dari negara-negara yang terlibat dalam serangan terhadap Teheran, termasuk Amerika Serikat dan Israel. Di sisi lain, Iran menawarkan jaminan keamanan bagi negara lain, termasuk Jepang, selama ada koordinasi.
Araghchi menuturkan bahwa pembahasan terkait jalur pelayaran kapal Jepang terus dilakukan bersama Menteri Luar Negeri Jepang, Toshimitsu Motegi. Jepang sendiri sangat bergantung pada pasokan energi dari Timur Tengah, dengan sekitar 90 persen impor minyak mentahnya melewati Selat Hormuz.
Pemerintah Jepang pun merespons hati-hati. Seorang pejabat di Tokyo menyebut bahwa negosiasi langsung dengan Iran menjadi langkah paling efektif untuk menjaga kelancaran pelayaran, meski tetap harus mempertimbangkan dinamika geopolitik, terutama hubungan dengan Amerika Serikat.
Di tengah situasi tersebut, Iran menegaskan tidak menginginkan gencatan senjata sementara, melainkan penghentian perang secara menyeluruh.
“Kami tidak menginginkan gencatan senjata, tetapi akhir perang yang lengkap, komprehensif, dan langgeng,” tegas Araghchi.
Ia juga menyebut konflik yang terjadi sebagai bentuk “agresi ilegal” dan menegaskan bahwa respons Iran merupakan tindakan pembelaan diri yang akan terus berlangsung selama diperlukan.
Meski ketegangan meningkat, Iran menyatakan tetap terbuka terhadap berbagai upaya diplomatik yang ditawarkan komunitas internasional, termasuk peran Jepang yang dinilai memiliki posisi “seimbang dan adil”.
Situasi di kawasan kini semakin mengkhawatirkan, dengan eskalasi konflik berpotensi mengganggu stabilitas regional serta pasokan energi global yang sangat bergantung pada jalur strategis Selat Hormuz.
