Jakarta – Presiden RI Prabowo Subianto mengungkapkan alasan di balik keputusan Indonesia bergabung dalam Board of Peace (BoP), yakni untuk memperkuat upaya mendorong kemerdekaan penuh bagi Palestina.
Penjelasan tersebut disampaikan Prabowo dalam diskusi bersama pakar dan jurnalis senior di kediamannya di Kabupaten Bogor, Jawa Barat, yang disiarkan pada Kamis (19/3).
Ia memaparkan bahwa keterlibatan Indonesia berawal dari pidatonya di Sidang Umum Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pada 23 September, di mana ia menegaskan dukungan terhadap kemerdekaan Palestina serta mendorong solusi dua negara (two-state solution).
Tak lama setelah pidato tersebut, Prabowo bersama tujuh pemimpin negara mayoritas Muslim yang tergabung dalam Group of Eight, di antaranya Arab Saudi, Uni Emirat Arab, Yordania, Turki, Pakistan, Qatar, dan Mesir, diundang oleh Presiden Amerika Serikat Donald Trump untuk membahas rencana perdamaian di Gaza.
Dalam pertemuan itu, pemerintah AS menawarkan proposal 21-point plan yang bertujuan menciptakan perdamaian jangka panjang. Prabowo menyebut poin ke-19 dan ke-20 menjadi perhatian utama karena membuka peluang bagi Palestina untuk menjadi negara merdeka serta mendorong dialog damai antara Israel dan Palestina.
“Jadi, kita lihat ini (poin) 19 dan 20 ada peluang (untuk kemerdekaan Palestina) walaupun kita tahu ini sedikit. Akhirnya, kita berdelapan (pimpinan negara mayoritas Muslim) diskusi, kita dukung ini atau tidak? Akhirnya, dalam lobi-lobi kita bilang, kita dukung,” ujar Prabowo.
Para pemimpin tersebut kemudian menunjuk Emir Qatar Tamim bin Hamad Al Thani sebagai perwakilan untuk menyampaikan dukungan kepada pihak AS.
“We like your plan. But the problem is not us. The problem is Prime Minister Netanyahu of Israel,” kata Prabowo mengutip pernyataan dalam pertemuan tersebut.
Seiring perkembangan, muncul gagasan pembentukan BoP yang kemudian diadopsi dalam Resolusi Dewan Keamanan PBB 2803. Negara-negara dalam Group of Eight kembali berdiskusi dan akhirnya sepakat untuk bergabung.
Prabowo menilai keikutsertaan dalam BoP memberikan peluang lebih besar bagi Indonesia untuk memengaruhi kebijakan internasional agar berpihak pada Palestina.
“Kalau kita di dalam, mungkin kita bisa pengaruhi dan membantu rakyat Palestina,” ujarnya.
“Kalau di luar (BoP), kita tidak bisa (memperjuangkan Palestina). Jadi, akhirnya kita putuskan, kita masuk,” paparnya.
Meski demikian, ia menegaskan bahwa Indonesia akan mengevaluasi keanggotaannya. Jika dinilai tidak lagi sejalan dengan kepentingan nasional atau perjuangan Palestina, Indonesia tidak akan ragu untuk keluar dari forum tersebut.
“Selama kita di dalam BoP bisa bantu perjuangan rakyat Palestina, kita akan berusaha. Begitu kita ambil kesimpulan tidak ada harapan dan kontraproduktif, kita keluar,” tambahnya.
Prabowo berharap keterlibatan Indonesia bersama negara-negara mayoritas Muslim lainnya dapat memberikan kontribusi nyata bagi terciptanya perdamaian jangka panjang di Palestina.
“Jadi, saya menjalankan perjuangan bangsa Indonesia dari dulu. Kita selalu membela kemerdekaan Palestina,” pungkasnya.
