Jakarta – Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung menegaskan larangan bagi organisasi masyarakat (ormas) melakukan sweeping terhadap warteg maupun rumah makan yang tetap beroperasi pada siang hari selama Ramadan 1447 Hijriah/2026 Masehi.
Seperti diketahui, setiap bulan puasa sejumlah ormas kerap mendatangi tempat makan yang buka di siang hari. Pramono menegaskan, tindakan semacam itu tidak diperkenankan karena menjaga ketertiban menjadi tanggung jawab pemerintah daerah.
“Saya sebagai gubernur bertanggung jawab untuk itu dan saya tidak mengizinkan untuk ada sweeping,” tegas Pramono di Jakarta Pusat, dikutip Minggu, 15 Februari 2026.
Ia juga mengimbau warga Ibu Kota untuk bersama-sama menjaga suasana tetap rukun dan kondusif selama Ramadan.
Selain melarang sweeping, Pramono memastikan kegiatan Sahur On The Road (SOTR) tidak diizinkan digelar di Jakarta. Menurutnya, aktivitas tersebut berpotensi memicu gesekan hingga tawuran antarkelompok yang dapat mengganggu ketenteraman bulan suci.
“Pokoknya hal yang menimbulkan kerawanan, keributan saya nggak izinkan. Pokoknya yang (SOTR) itu nggak,” tegas Pramono.
Namun demikian, ia tetap membuka ruang bagi kegiatan masyarakat yang bersifat tradisi dan tidak menimbulkan gangguan, seperti arak-arakan bedug untuk membangunkan sahur.
“Kalau menimbulkan kenyamanan nanti saya izinkan,” ujarnya.
Untuk menyemarakkan Ramadan, Pemprov DKI Jakarta akan menggelar Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ). Kegiatan ini akan dilaksanakan berjenjang, mulai dari tingkat kelurahan hingga provinsi, guna memperluas partisipasi masyarakat.
“MTQ yang sekarang ini hanya pada level provinsi kita mulai kembali dari bawah dari akarnya untuk memberikan kesempatan itu,” ujar Mas Pram, sapaan akrabnya.
Selain MTQ, Pramono juga berencana mengadakan haul bagi ulama besar dan tokoh nasional Betawi selama Ramadan.
Di sisi lain, politisi Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDI Perjuangan) tersebut memastikan wajah Jakarta akan disesuaikan dengan nuansa Ramadan 2026. Saat ini, sejumlah titik strategis masih dihiasi ornamen bertema Imlek. Ia menyebut, mulai 18 Februari 2026, dekorasi tersebut akan diganti dengan suasana Ramadan.
“Jakarta wajahnya total berubah menjadi wajah yang Ramadan dan juga wajah yang menyambut Idul Fitri,” ujarnya.
