Politik “Senyuman” Komunikasi Presiden Prabowo di Tengah Pelemahan Rupiah Terhadap Dolar

Oleh: Mahardhikka Prakasha Shatya (Mahasiswa Program Studi Magister Komunikasi Politik, Universitas Paramadina)

Presiden Prabowo Subianto baru-baru ini menunjukkan gaya komunikasi politik yang khas, santai namun penuh pesan politik saat menanggapi lemahannya nilai tukar Rupiah terhadap Dolar AS yang sudah menyentuh angka Rp17.000 lebih.

Di sini Presiden Prabowo Subianto memilih strategi komunikasi yang tidak lazim. Sebagai Kepala Negara, Prabowo memberi harapan dan ketenangan melalui sebuah metafora visual.

“Selama Purbaya bisa senyum, tenang saja. Jangan khawatir mau berapa pun itu Dolar,” katanya saat meresmikan Museum Marsinah di Nganjuk (16/5).

Ucapan Presiden Prabowo ini pun viral di media massa maupun di jagat media sosial. Pernyataan Presiden tersebut ingin menunjukkan dan membangun kepercayaan penuh terhadap rakyat (public trust) dengan kapasitas tim ekonominya.

Dengan menggunakan Framing senyuman Menkeu Purbaya sebagai indikator, Prabowo mencoba menyederhanakan isu ekonomi makro yang kompleks menjadi narasi yang mudah dipahami rakyat awam.

​Dalam strategi komunikasi persuasi Presiden tersebut, bisa kita bedah menggunakan teori Framing Robert Entman, di mana kita melihat upaya pemerintah dalam mendefinisikan ulang masalah (define problems). Kenaikan Dolar tidak dibingkai sebagai “kegagalan sistemik,” melainkan sebagai “gangguan eksternal” yang tidak menyentuh urat nadi rakyat pedesaan.

​Dalam hal ini Presiden fokus mengalihkan perhatian dari grafik merah di bursa saham menuju stok pangan di gudang-gudang desa. Tentu tujuannya untuk menciptakan ketenangan psikologis masyarakat.

Prabowo juga menggunakan pendekatan populis dengan menyatakan bahwa fluktuasi Dolar lebih berdampak pada mereka yang sering bepergian ke luar negeri dibandingkan masyarakat desa.

Beliau menekankan bahwa selama ketahanan pangan dan energi dalam negeri aman, gejolak mata uang global tidak akan langsung melumpuhkan ekonomi rakyat kecil.

Target audiens strategi komunikasi politik Presiden Prabowo tersebut bisa dibilang ingin menyasar langsung masyarakat bawah, dengan cara komunikasi yang santai, optimis dan menenangkan.

Tidak hanya itu, di sini Presiden juga menunjukan pesan solidaritasnya dan mendukung penuh Menteri Keuangan Purbaya untuk terus berjuang memperbaiki perekonomian nasional di tengah tekanan ekonomi politik global.

Komunikasi Politik Presiden Prabowo Menembus Dua Lapis Psikologi Publik

​Melalui kacamata Elaboration Likelihood Model (ELM), teori persuasi yang dikembangkan oleh Richard E. Petty dan John T. Cacioppo, kita bisa memahami mengapa komunikasi politik Presiden ini sangat strategis untuk menjangkau semua lapisan masyarakat.

Komukasi politik persuasi Presiden Prabowo ini—bagi mayoritas publik yang tidak memahami kompleksitas Current Account Deficit atau kebijakan The Fed—mereka membutuhkan tingkat kepercayaan lebih (trust cues).

Kalimat “Selama Purbaya bisa senyum, tenang saja” adalah isyarat pinggiran yang sempurna. Publik tidak perlu berpikir keras dan khawatir, mereka hanya perlu melihat wajah sang otoritas ekonomi. Jadi bila pejabat negaranya tenang, rakyat pun juga akan tenang.

Sementara itu, bagi kelompok kelas menengah terdidik dan pelaku pasar, narasi ini memang berisiko dianggap terlalu menyederhanakan (oversimplification). Namun, di sinilah peran data teknokratis Purbaya masuk untuk melengkapi kata “senyum” yang dilontarkan Presiden Prabowo tersebut dengan penjelasan fundamental ekonomi yang kuat dan dapat diterima publik.

​Meski efektif meredam kepanikan massal (panic buying) dalam jangka pendek, strategi komunikasi ini memiliki celah. Jika harga barang kebutuhan pokok mulai merangkak naik akibat imported inflation, maka “Jalur Pusat” masyarakat akan teraktivasi secara paksa. Publik akan mulai memproses fakta bahwa Dolar bukan sekadar angka di media massa dan sosial, melainkan faktor yang menentukan harga beras dan BBM.

​Komunikasi politik Prabowo adalah sebuah eksperimen psikologi massa yang berani. Dengan menjadikan ekspresi wajah seorang menteri sebagai indikator stabilitas, beliau sedang bertaruh pada kepercayaan publik. Ini bukan sekadar urusan ekonomi, ini adalah seni mengelola persepsi di mana “senyuman” menjadi mata uang yang lebih berharga daripada Dolar itu sendiri.

Berita Lainnya

KPAI Catat Jakarta Jadi Wilayah dengan Aduan Kekerasan Anak Tertinggi

Jakarta - Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) mencatat DKI Jakarta sebagai daerah dengan jumlah pengaduan kasus kekerasan terhadap anak paling tinggi di Indonesia selama...

Menkeu Pastikan Anggaran Alutsista Ditambah, Pertahanan RI Bakal Diperkuat

Jakarta - Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan pemerintah telah menyiapkan anggaran tambahan untuk memperkuat alat utama sistem persenjataan (alutsista) nasional. Meski memastikan adanya...

Kejaksaan Gelar BPA Fair 2026, Mobil Mewah hingga Lukisan Emas Dilelang

Jakarta - Badan Pemulihan Aset (BPA) Kejaksaan RI resmi membuka gelaran BPA Fair yang berlangsung hingga 21 Mei 2026. Kegiatan ini menghadirkan lelang terbuka...

Stay Connected

0FansSuka
0PengikutMengikuti
0PelangganBerlangganan

FEED NEWS