Jakarta – Pemerintah memperkuat strategi penanggulangan tuberkulosis (TB) dengan mendorong perluasan program Desa Siaga TB sebagai garda terdepan di tingkat desa dan kelurahan. Langkah ini dinilai penting untuk mempercepat target eliminasi TB di Indonesia.
Dalam Temu Media Hari Tuberkulosis Sedunia 2026, Wakil Menteri Dalam Negeri, Akhmad Wiyagus, menegaskan peran pemerintah daerah sangat krusial dalam mengoordinasikan penanganan TB hingga ke tingkat paling bawah.
“Daerah harus menjadi motor penggerak, memastikan koordinasi berjalan efektif sampai ke level paling bawah,” ujarnya di Jakarta, Senin (6/4/2026).
Cakupan Masih Terbatas
Data pemerintah menunjukkan, dari total 84.276 desa di Indonesia, baru sekitar 5.711 desa yang telah mengimplementasikan program Desa/Kelurahan Siaga TB. Program ini juga baru menjangkau 22 provinsi dan 108 kabupaten/kota.
Kondisi tersebut menunjukkan perlunya percepatan implementasi, terutama di wilayah dengan beban kasus tinggi seperti Jawa Barat, Jawa Tengah, Jawa Timur, dan DKI Jakarta.
Fokus pada Deteksi dan Pendampingan
Program Desa Siaga TB menitikberatkan pada:
- Penemuan kasus secara aktif
- Edukasi masyarakat
- Pendampingan pasien hingga tuntas berobat
Pendekatan berbasis komunitas ini dinilai efektif untuk memutus rantai penularan TB secara lebih cepat.
Perlu Kolaborasi Lintas Sektor
Sementara itu, Wakil Menteri Kesehatan, Benjamin P. Octavianus, menekankan pentingnya kolaborasi berbagai pihak dalam mendukung keberhasilan program.
“Keterlibatan tenaga kesehatan, masyarakat, dunia usaha, hingga media menjadi faktor penentu. Peran media sangat strategis untuk mendorong kesadaran, deteksi dini, dan kepatuhan pengobatan,” katanya.
Pemerintah juga memastikan layanan bagi suspek TB masuk dalam Standar Pelayanan Minimal (SPM) yang wajib dipenuhi oleh seluruh daerah.
Dengan penguatan peran desa dan sinergi lintas sektor, pemerintah optimistis target eliminasi TB di Indonesia dapat tercapai lebih cepat dan merata.
