Jakarta – Kesejahteraan petani Indonesia menunjukkan tren positif. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat Nilai Tukar Petani (NTP) pada Mei 2026 mencapai 127,73 atau meningkat 1,99 persen dibandingkan bulan sebelumnya.
Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman menyambut baik capaian tersebut. Menurutnya, kenaikan NTP menjadi sinyal bahwa pendapatan petani tumbuh lebih cepat dibandingkan biaya produksi maupun pengeluaran rumah tangga yang harus mereka tanggung.
“Alhamdulillah, kenaikan NTP menjadi kabar baik bagi petani Indonesia. Ini menunjukkan bahwa pendapatan petani meningkat dan hasil kerja keras mereka di lapangan semakin memberikan nilai tambah,” kata Mentan dalam keterangannya di Jakarta, Selasa.
Amran menilai peningkatan NTP mencerminkan mulai terlihatnya dampak positif dari berbagai program pemerintah di sektor pertanian. Beragam kebijakan yang difokuskan pada peningkatan produksi dan penguatan kapasitas petani dinilai memberikan hasil yang nyata.
Menurutnya, NTP merupakan salah satu indikator utama untuk mengukur tingkat kesejahteraan petani. Ketika pendapatan yang diterima lebih besar dibandingkan kenaikan biaya yang harus dikeluarkan, maka daya beli petani ikut menguat.
“Kementerian Pertanian akan terus berupaya menjaga agar petani memperoleh keuntungan yang layak dari usaha taninya,” ujarnya.
Ia menjelaskan, capaian tersebut tidak terlepas dari berbagai langkah strategis yang dijalankan Kementerian Pertanian dalam dua tahun terakhir. Program tersebut meliputi perluasan areal tanam, optimalisasi lahan, rehabilitasi dan normalisasi jaringan irigasi, penyediaan benih unggul, bantuan alat dan mesin pertanian, hingga pendampingan intensif kepada petani di sentra produksi.
Amran juga menyoroti kontribusi subsektor hortikultura yang mencatat kenaikan NTP tertinggi. Menurutnya, kondisi tersebut menunjukkan besarnya peluang komoditas hortikultura dalam mendorong pertumbuhan ekonomi masyarakat perdesaan.
Karena itu, pemerintah berkomitmen untuk terus meningkatkan produktivitas sekaligus menjaga stabilitas pasokan agar petani memperoleh keuntungan yang optimal.
“Kita ingin petani semakin sejahtera. Karena itu fokus pemerintah tidak hanya meningkatkan produksi, tetapi juga memastikan hasil produksi memiliki nilai ekonomi yang baik. Ketika produktivitas naik dan harga petani membaik, maka kesejahteraan petani akan meningkat,” tegasnya.
Di tengah tantangan perubahan iklim dan ketidakpastian ekonomi global, Amran menilai sektor pertanian nasional masih mampu menunjukkan ketahanan yang kuat serta memberikan kontribusi signifikan terhadap perekonomian nasional.
Menurutnya, petani memiliki peran penting dalam menjaga ketahanan pangan bangsa sehingga pemerintah terus berupaya menciptakan iklim usaha tani yang lebih menguntungkan.
“Kenaikan NTP ini harus kita jaga bersama agar manfaatnya semakin dirasakan oleh petani di seluruh Indonesia,” tegasnya.
Sementara itu, Deputi Bidang Metodologi dan Informasi Statistik BPS Pudji Ismartini menjelaskan, kenaikan NTP pada Mei 2026 terjadi karena peningkatan Indeks Harga yang Diterima Petani (IT) lebih tinggi dibandingkan Indeks Harga yang Dibayar Petani (IB).
“Kenaikan NTP ini terjadi karena indeks harga yang diterima petani naik sebesar 2,53 persen. Ini lebih tinggi dibandingkan peningkatan indeks harga yang dibayarkan petani yang naik sebesar 0,53 persen,” ujar Pudji.
BPS mencatat sejumlah komoditas utama yang berkontribusi terhadap kenaikan harga di tingkat petani antara lain karet, gabah, kakao atau cokelat biji, serta bawang merah.
Pada level subsektor, hortikultura menjadi penyumbang kenaikan terbesar dengan peningkatan NTP mencapai 7,08 persen selama Mei 2026.
“Subsektor yang mengalami kenaikan NTP tertinggi adalah subsektor hortikultura. Subsektor hortikultura ini mengalami kenaikan NTP sebesar 7,08 persen. Hal ini karena IT naik sebesar 7,52 persen sedangkan IB hanya naik sebesar 0,41 persen,” kata Pudji.
Menurutnya, kenaikan tersebut terutama didorong oleh meningkatnya harga bawang merah, cabai rawit, cabai merah, dan tomat di tingkat petani.
Selain hortikultura, subsektor tanaman pangan juga mencatat perbaikan. NTP tanaman pangan meningkat 1,34 persen dari 112,29 pada April 2026 menjadi 113,79 pada Mei 2026, yang menunjukkan kondisi ekonomi petani tanaman pangan semakin membaik.
