Jakarta – Teheran menegaskan bahwa Selat Hormuz tetap dibuka untuk pelayaran internasional, namun tidak bagi pihak-pihak yang dianggap sebagai musuh Iran.
Penasihat pemimpin tertinggi Iran, Ali Akbar Velayati, menyampaikan bahwa akhir konflik akan bergantung pada strategi Iran, bukan pada anggapan keliru dari pihak lawan.
“Perang akan berakhir dengan strategi dan otoritas Iran, bukan dengan khayalan dan ilusi para agresor,” katanya di X seperti dilansir dari Antara, Jumat (3/4/2026).
Pernyataan itu muncul beberapa jam setelah Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, dalam pidato yang disiarkan dari Gedung Putih menyebut bahwa Iran kini hanya memiliki “sedikit” peluncur rudal. Ia juga menilai kemampuan Iran dalam meluncurkan rudal dan drone telah “sangat berkurang.”
Trump memperkirakan konflik masih akan berlangsung sekitar dua hingga tiga pekan ke depan, meski ia menilai situasinya sudah mendekati tahap akhir.
Sementara itu, Iran menegaskan tetap memegang kendali atas Selat Hormuz, jalur laut vital yang menjadi penghubung utama distribusi energi menuju negara-negara Asia.
Teheran juga disebut memberikan izin bagi kapal dari sejumlah negara yang dianggap “sahabat” untuk melintasi jalur tersebut.
Ketegangan di kawasan Timur Tengah meningkat sejak serangan gabungan Israel dan Amerika Serikat terhadap Iran pada 28 Februari, yang dilaporkan menewaskan lebih dari 1.340 orang, termasuk Pemimpin Tertinggi Iran saat itu, Ali Khamenei.
Sebagai balasan, Iran melancarkan serangan drone dan rudal yang menyasar Israel, Yordania, Irak, serta negara-negara Teluk yang menjadi lokasi aset militer AS. Serangan tersebut menimbulkan korban jiwa, kerusakan infrastruktur, serta turut mengganggu stabilitas pasar global dan sektor penerbangan.
