Hormuz Memanas! Ancaman Blokade Picu Alarm Ekonomi Dunia, DPR: Dampaknya Bisa Mengguncang Indonesia

Jakarta – Ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah kembali menguat, terutama di sekitar Selat Hormuz yang merupakan jalur strategis distribusi energi dunia. Anggota Komisi II DPR, Azis Subekti, menilai situasi ini berpotensi menimbulkan efek luas terhadap perekonomian global, termasuk Indonesia.

Azis mengungkapkan, kawasan jalur energi dunia secara historis memang jarang berada dalam kondisi benar-benar stabil. Menurutnya, Selat Hormuz saat ini kembali berada dalam tekanan seiring meningkatnya konflik antara Iran dan Israel, serta keterlibatan Amerika Serikat di wilayah Teluk.

“Sekitar seperlima minyak dunia melewati selat sempit ini. Jika ia tersumbat, bahkan hanya beberapa minggu, ekonomi global akan merasakan dampaknya,” kata Azis dalam keterangannya dikutip, Minggu (20/3/2026).

Ia menjelaskan, gangguan di jalur tersebut berpotensi memicu kenaikan harga energi, mendorong inflasi, hingga menggoyahkan stabilitas politik di berbagai negara. Dampak lanjutan dari kondisi ini juga dapat dirasakan langsung oleh masyarakat melalui penurunan daya beli.

Lebih lanjut, Azis menilai setiap negara besar memiliki kepentingan berbeda dalam menyikapi konflik yang terjadi. Amerika Serikat disebut berupaya menjaga kelancaran jalur perdagangan global, sementara China lebih berkepentingan pada keberlanjutan pasokan energi untuk mendukung sektor industrinya.

Di sisi lain, Rusia melihat situasi ini sebagai peluang strategis.

“Dalam logika geopolitik, setiap krisis yang menyibukkan Amerika di Timur Tengah bisa menjadi keuntungan bagi Rusia,” pungkasnya.

Negara-negara di kawasan Teluk, seperti Arab Saudi, juga berada dalam posisi dilematis. Mereka memandang Iran sebagai pesaing, namun konflik terbuka dinilai berisiko mengganggu stabilitas ekonomi kawasan.

Sementara itu, Iran disebut cenderung memperluas eskalasi sebagai bentuk perlawanan, sedangkan Israel memandang ancaman dari Iran sebagai hal yang harus segera ditekan melalui langkah militer.

Azis menilai, jika dipetakan secara sederhana, konstelasi global saat ini terbagi dalam tiga kepentingan utama, yakni kelompok ofensif, kelompok perlawanan, dan kelompok penyeimbang. Ketiganya sama-sama menjadikan Selat Hormuz sebagai titik krusial.

Ia memperkirakan konflik tidak akan berkembang menjadi perang besar dalam waktu dekat, namun berpotensi meluas di tingkat regional.

“Kejutan terbesar justru bisa datang dari sisi ekonomi, terutama jika distribusi energi terganggu, sebab stabilitas jalur energi terganggu, sebab stabilitas jalur energi menjadi faktor kunci yang menentukan arah ekonomi global ke depan,” katanya.

Berita Lainnya

Kemarau Meluas, Kementerian PU Tangani 3.288 Lokasi dan Salurkan 48,9 Juta Liter...

Jakarta - Pemerintah memperkuat langkah antisipasi menghadapi kemarau dan kekeringan yang melanda sejumlah wilayah di Indonesia. Penanganan dilakukan dengan menyasar kebutuhan air untuk pertanian...

Sekolah Rakyat Ditegaskan Melengkapi Sekolah Negeri, Sasar Anak Keluarga Rentan

Jakarta - Kementerian Sosial (Kemensos) menegaskan program Sekolah Rakyat hadir untuk melengkapi sistem pendidikan nasional, terutama dalam memperluas akses bagi anak-anak dari keluarga kurang...

Prabowo Apresiasi Emas Pertama Indonesia di Asian Games 2026

Jakarta - Presiden Prabowo Subianto menyampaikan apresiasi kepada kontingen Indonesia setelah tim bulu tangkis beregu putra mempersembahkan medali emas pertama bagi Merah Putih di...

Stay Connected

0FansSuka
0PengikutMengikuti
0PelangganBerlangganan
- Advertisement -

FEED NEWS