Jakarta – Fenomena El Niño ekstrem berpotensi meningkatkan kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) di Jakarta. Kondisi suhu panas yang menyengat memicu kekeringan serta penurunan kualitas udara yang berdampak langsung pada kesehatan masyarakat.
Selain ISPA, cuaca panas juga meningkatkan risiko dehidrasi dan penyakit kulit, terutama bagi kelompok rentan seperti anak-anak dan lansia.
Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) DKI Jakarta, Ani Ruspitawati, mengimbau warga untuk mengurangi aktivitas di luar ruangan, khususnya pada siang hari saat paparan panas berada pada puncaknya.
“Suhu yang tinggi tidak hanya meningkatkan risiko heatstroke dan dehidrasi, tetapi juga memperberat penyakit kronis seperti jantung dan paru. Di saat yang sama, kualitas udara yang menurun, termasuk peningkatan partikulat halus, turut berkontribusi terhadap lonjakan kasus ISPA,” kata Ani, Rabu (15/4/2026).
Ia menegaskan, kondisi ini menjadi ancaman serius bagi kelompok rentan. Risiko kesehatan yang perlu diwaspadai antara lain dehidrasi akibat paparan panas berlebih, gangguan pernapasan karena polusi udara, hingga penyakit kulit akibat udara panas dan kering.
Kemarau panjang juga disebut dapat memperburuk kualitas udara dan memicu gangguan pernapasan seperti asma.
Untuk meminimalkan dampak tersebut, masyarakat diminta memperbanyak konsumsi air putih, menggunakan masker saat beraktivitas di luar ruangan, serta membatasi aktivitas luar ruang terutama pada pukul 11.00 hingga 15.00 WIB.
“Masyarakat juga disarankan menggunakan pelindung seperti topi atau payung, serta tabir surya untuk melindungi kulit dari paparan sinar UV,” ucap Ani.
Ia juga mengingatkan pentingnya memantau informasi cuaca dari Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika agar masyarakat dapat menyesuaikan aktivitas dengan kondisi terkini.
“Pantau terus informasi cuaca dan peringatan dini dari BMKG agar kita bisa mengantisipasi dampak buruk yang ditimbulkan,” pungkasnya.
