Oleh : Ki Edi Susilo
Penikmat Kopi Hitam dengan Sedikit Gula
Gedung Putih mungkin sedang menepuk dada. Di bawah lampu neon Washington, kabar penculikan Presiden Nicolas Maduro dirayakan sebagai sebuah kemenangan taktis yang paripurna. Bagi Donald Trump dan para penasihatnya, menumbangkan Maduro dianggap sama dengan mematikan saklar Revolusi Bolivarian. Namun, mereka lupa satu hukum alam: di tanah Amerika Latin, revolusi bukan sekadar soal siapa yang duduk di kursi istana, melainkan soal siapa yang memegang nyala api sejarah.
Keyakinan Washington bahwa jatuhnya Maduro akan diikuti oleh keruntuhan dukungan politik di Caracas adalah sebuah simplifikasi yang berbahaya. Benar bahwa ekonomi Venezuela sedang babak belur dan karisma Maduro tak sesakti Hugo Chavez. Namun, meremehkan daya tahan rakyat Venezuela adalah kekeliruan fatal yang terus diulang oleh kekuatan imperialistik sejak zaman Vietnam hingga Afghanistan.
Bukan Sekadar Pemujaan Figur
Rakyat Venezuela mungkin punya penilaian berbeda-beda terhadap Maduro. Namun, saat bicara soal Simon Bolivar, mereka bicara soal harga diri yang tak bisa ditawar. Kesalahan terbesar Trump adalah menyangka bahwa ketidakpuasan terhadap pemerintah otomatis bermakna kesediaan untuk kembali menjadi “halaman belakang” Amerika Serikat.
Kesadaran rakyat Venezuela telah berevolusi. Mereka tidak lagi hanya membela seorang presiden, melainkan membela cita-cita El Libertador untuk membebaskan Amerika Latin dari segala bentuk penindasan. Di jalan-jalan Caracas, yang berteriak bukan hanya pendukung partai, melainkan “Putra-Putri Bolivar” yang menolak tunduk pada dikte asing.
Tembok Baja Bernama Delcy
Kini, Trump harus berhadapan dengan “karang” baru: Delcy Rodriguez. Penunjukan Delcy sebagai pejabat sementara presiden oleh Mahkamah Agung adalah langkah skakmat yang tak diduga. Jika Washington mengira Delcy adalah politisi yang bisa diajak berkompromi demi kursi kekuasaan, mereka gagal membaca riwayat hidupnya.
Delcy bukan sekadar loyalis; ia adalah anak zaman yang dibentuk oleh api perlawanan. Darah Jorge Antonio Rodriguez, martir revolusioner yang gugur disiksa karena menentang dominasi ekonomi AS pada 1970-an, mengalir di nadinya. Bagi Delcy, melawan imperialisme bukan sekadar pilihan politik, melainkan sebuah wasiat yang harus ditunaikan.
Imperialisme yang Sakit
Operasi penculikan mungkin bisa dilakukan di kegelapan malam dengan kecanggihan intelijen, tetapi menguasai teritori yang rakyatnya sudah bersumpah untuk merdeka adalah perkara lain. Pengalaman di Irak dan Vietnam seharusnya menjadi peringatan, masuk dan memaksakan penaklukan hanya akan menyulut api perlawanan yang lebih besar.
Dunia yang waras kini melihat sebuah paradoks. Imperialisme Amerika yang kian menua itu tampak semakin kasar dan brutal. Namun, kebrutalan itu justru menjadi tanda kelemahannya. Saat mereka hanya bisa menggunakan cara-cara premanisme internasional untuk menguasai minyak, saat itulah mereka kehilangan legitimasi moral di mata dunia.
Maduro mungkin berada dalam tahanan, tapi revolusi tidak sedang sekarat. Di bawah kendali Delcy Rodriguez, militer dikonsolidasikan, rakyat tetap di jalanan, dan solidaritas internasional terus mengalir. Trump mungkin mendapatkan tubuh seorang Maduro, tetapi ia tak akan pernah mendapatkan jiwa Venezuela.
Sebab, di tanah Bolivar, kebebasan adalah harga mati, dan perbudakan hanyalah masa lalu yang tak akan diizinkan kembali.
