Dari Memulung ke Sekolah Rakyat, Fikri Temukan Lagi Senyum dan Harapan Baru

Sumedang – Fikri tersenyum lebar saat tangannya sibuk mewarnai gambar di dalam kelas. Anak berusia 6 tahun itu kini menikmati hari-harinya di Sekolah Rakyat Terintegrasi 4 Sumedang, Jawa Barat, sesuatu yang dulu terasa jauh dari kehidupannya.

Fikri adalah bocah asal Desa Sukaraja, Sumedang, Jawa Barat. Ia sempat tinggal bersama neneknya di Jakarta dan ikut memulung sampah plastik di jalanan demi bertahan hidup. Dari membawa karung berisi barang bekas, kini ia membawa buku dan pensil ke sekolah.

Di ruang kelas, Fikri menjalani hari-hari seperti anak seusianya. Ia belajar membaca dan berhitung, menggambar, hingga bermain bersama teman-teman. Sesekali, ia mencoba permainan edukatif di papan tulis interaktif (interactive flat panel) atau bermain lego dengan penuh antusias.

“Sekolahnya seru banget. Aku jadi ngerasain punya kakak, punya bapak, punya ibu, banyak teman juga. Semuanya baik-baik,” ujar Fikri polos.

Tak hanya belajar, Fikri juga merasakan perhatian yang sebelumnya jarang ia dapatkan. Di sekolah, ia memperoleh makanan bergizi setiap hari. “Aku juga bisa makan. Makanannya enak banget. Badanku jadi kuat,” katanya sambil tersenyum.

Kini, perlahan, rasa percaya dirinya tumbuh. “Sekarang aku bisa belajar baca, belajar nulis, dan main lari-larian,” tuturnya.

“Aku Fikri, aku senang sekali di Sekolah Rakyat. Terima kasih Pak Prabowo, aku sayang Bapak,” ujarnya dengan suara lantang dan wajah ceria.

Perjalanan Fikri menuju bangku pendidikan bukanlah cerita mudah. Kehidupan di jalanan membuatnya harus kehilangan masa kecil yang semestinya diisi dengan bermain dan belajar. Kondisi itu kemudian menarik perhatian aparat kepolisian yang membantu memulangkannya ke kampung halaman di Sumedang.

Sejak saat itu, berbagai bentuk pendampingan diberikan. Pemerintah memastikan Fikri mendapatkan akses pendidikan yang layak sekaligus dukungan kebutuhan dasar untuk keluarganya. Tak hanya Fikri, adiknya, Naufal, juga kini didaftarkan ke Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) agar keduanya bisa tumbuh dengan hak pendidikan yang terpenuhi sejak dini.

Bantuan lain turut mengalir, mulai dari kebutuhan pokok, pengurusan administrasi kependudukan, hingga jaminan layanan kesehatan melalui BPJS. Bahkan, rumah keluarga Fikri juga mendapatkan bantuan perbaikan Rumah Tidak Layak Huni (Rutilahu) melalui kolaborasi pemerintah daerah, kepolisian, dan PMI. Sang ibu pun memperoleh bantuan modal usaha untuk memperkuat ekonomi keluarga.

Kini, langkah kecil Fikri di ruang kelas menjadi awal dari perjalanan panjang menuju masa depan yang lebih cerah. Dari jalanan yang keras, ia menemukan harapan baru, di bangku sekolah, bersama mimpi-mimpi yang perlahan tumbuh.

Berita Lainnya

MK Tolak Gugatan Warga Palangkaraya soal Anggaran Penanggulangan Bencana Karhutla

Jakarta - Mahkamah Konstitusi (MK) menolak permohonan uji materiil Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana yang diajukan empat warga Palangkaraya, Kalimantan Tengah,...

Wamentan Alim Dorong Ekspor Pangan Diperkuat, Kesejahteraan Petani Jadi Prioritas

Jakarta - Wakil Menteri Pertanian (Wamentan) Alim Setiawan Slamet mendorong peningkatan ekspor pangan nasional yang dibarengi perbaikan kualitas produksi, pengembangan hilirisasi, serta pembenahan tata...

Rahayu Saraswati Ingatkan Pengusaha, Teknologi Baru Jangan Sampai Pangkas Lapangan Kerja

Jakarta - Wakil Ketua Komisi VII DPR Rahayu Saraswati S. Djojohadikusumo meminta para pelaku usaha mempertimbangkan dampak penerapan teknologi baru terhadap ketersediaan lapangan kerja....

Stay Connected

0FansSuka
0PengikutMengikuti
0PelangganBerlangganan
- Advertisement -

FEED NEWS