Wamentan Alim Dorong Ekspor Pangan Diperkuat, Kesejahteraan Petani Jadi Prioritas

Jakarta – Wakil Menteri Pertanian (Wamentan) Alim Setiawan Slamet mendorong peningkatan ekspor pangan nasional yang dibarengi perbaikan kualitas produksi, pengembangan hilirisasi, serta pembenahan tata niaga. Langkah tersebut dinilai penting agar peningkatan perdagangan pangan juga memberikan nilai tambah bagi petani dan mendukung kesejahteraan mereka secara berkelanjutan.

Menurut Alim, keberhasilan ekspor tidak cukup diukur dari peningkatan nilai perdagangan nasional. Pemerintah juga perlu memastikan petani sebagai pelaku utama sektor pertanian memperoleh manfaat ekonomi dari terbukanya akses ke pasar yang lebih luas.

“Peningkatan ekspor harus diiringi dengan penguatan kualitas produksi, pendampingan kepada petani, serta tata niaga yang memastikan petani memperoleh nilai tambah dari hasil usahanya,” kata Alim dilansir dari Antara, Sabtu (31/10/2026).

Hal itu disampaikannya dalam kegiatan Special Event 2 Tahun Prabowa-Gibran bertajuk Rapor Untuk Rakyat di Jakarta. Dalam kesempatan tersebut, Alim menyebut pertumbuhan ekspor sebagai salah satu perkembangan positif di sektor pertanian yang perlu dipertahankan.

Namun, ia mengingatkan bahwa peningkatan akses pasar harus diikuti upaya memperkuat kemampuan petani dalam menghasilkan produk yang sesuai dengan kebutuhan dan standar pasar internasional.

“Ekspor harus memberikan dampak nyata terhadap pendapatan petani. Karena itu, petani perlu didampingi agar mampu meningkatkan kualitas produk dan memenuhi standar yang dipersyaratkan pasar ekspor,” ujar dia.

Alim menjelaskan, perluasan pasar luar negeri perlu didukung penguatan sistem produksi dari hulu hingga hilir. Sejumlah aspek yang perlu diperhatikan mencakup mutu hasil pertanian, kesinambungan pasokan, pemenuhan standar produk, hingga pengolahan komoditas sebelum dipasarkan.

Upaya tersebut diperlukan agar produk pertanian Indonesia semakin kompetitif di pasar global. Selain meningkatkan daya saing, pengolahan hasil pertanian juga dapat memperbesar nilai ekonomi yang diterima petani.

“Petani seharusnya memperoleh manfaat yang sepadan dari upaya Pemerintah untuk mengejar peningkatan volume ekspor. Karena itu, penguatan produksi harus diikuti dengan hilirisasi agar komoditas pertanian memiliki nilai tambah dan mampu bersaing di pasar global,” katanya menambahkan.

Pengembangan hilirisasi menjadi salah satu langkah untuk mengurangi ketergantungan pada penjualan komoditas mentah. Melalui produk olahan dengan kualitas yang lebih baik, peluang petani untuk memperoleh pendapatan lebih tinggi diharapkan semakin terbuka.

Untuk mendukung hal tersebut, pemerintah akan terus memperkuat pendampingan kepada petani, terutama dalam meningkatkan mutu produksi dan memenuhi persyaratan pasar ekspor. Dengan dukungan tersebut, petani diharapkan dapat menjangkau pasar yang lebih luas dan memiliki posisi yang lebih baik dalam rantai pasok pertanian.

Selain persoalan produksi dan akses pasar, Alim menilai pembenahan tata niaga juga menjadi faktor penting dalam meningkatkan kesejahteraan petani. Menurutnya, peningkatan pasokan tidak selalu diikuti harga jual yang menguntungkan bagi produsen.

Ia menyoroti kondisi ketika hasil panen melimpah, tetapi harga di tingkat petani justru mengalami penurunan. Pada saat yang sama, harga yang dibayarkan konsumen bisa tetap tinggi atau bahkan meningkat.

“Anomali terjadi ketika produksi petani melimpah tapi harga di tingkat petani justru jatuh, sementara harga di tingkat konsumen tetap tinggi. Ini menunjukkan adanya persoalan dalam tata niaga yang harus kita benahi bersama,” ujar Alim.

Kondisi tersebut, menurutnya, memperlihatkan bahwa peningkatan produksi saja belum cukup untuk menjamin pendapatan petani. Sistem distribusi dan perdagangan perlu diperbaiki agar rantai pasok lebih efisien dan selisih harga antara tingkat produsen dan konsumen dapat ditekan.

Pemerintah juga berupaya menangani dugaan penyimpangan dalam tata niaga pangan melalui koordinasi dengan berbagai pihak, termasuk aparat penegak hukum. Pengawasan diperlukan untuk menjaga persaingan perdagangan yang sehat sekaligus melindungi kepentingan petani dan konsumen.

Di samping memperkuat ekspor, pemerintah tetap perlu menjaga ketersediaan pangan bagi masyarakat di dalam negeri. Menurut Alim, keseimbangan antara pemenuhan kebutuhan domestik dan perluasan pasar internasional menjadi bagian penting dalam menjaga keberlanjutan produksi pertanian nasional.

“Kerja keras di sektor pertanian harus memberikan hasil yang maksimal. Dengan kerja yang sungguh-sungguh, kolaborasi, dan kebijakan yang tepat, kita berharap produksi semakin kuat, ekspor berkembang, dan kesejahteraan petani terus meningkat,” kata Alim.

Berita Lainnya

MK Tolak Gugatan Warga Palangkaraya soal Anggaran Penanggulangan Bencana Karhutla

Jakarta - Mahkamah Konstitusi (MK) menolak permohonan uji materiil Undang-Undang Nomor 24 Tahun 2007 tentang Penanggulangan Bencana yang diajukan empat warga Palangkaraya, Kalimantan Tengah,...

Rahayu Saraswati Ingatkan Pengusaha, Teknologi Baru Jangan Sampai Pangkas Lapangan Kerja

Jakarta - Wakil Ketua Komisi VII DPR Rahayu Saraswati S. Djojohadikusumo meminta para pelaku usaha mempertimbangkan dampak penerapan teknologi baru terhadap ketersediaan lapangan kerja....

Hashim Djojohadikusumo Dorong Pemuda Perluas Gagasan untuk Menjawab Tantangan Pembangunan

Jakarta - Ketua Dewan Kehormatan Rembuk Pemuda Hashim Djojohadikusumo menekankan pentingnya forum dialog bagi generasi muda untuk bertukar pikiran dan merumuskan solusi atas berbagai...

Stay Connected

0FansSuka
0PengikutMengikuti
0PelangganBerlangganan
- Advertisement -

FEED NEWS