Jakarta – Bank Indonesia (BI) menyampaikan bahwa posisi cadangan devisa Indonesia pada akhir Februari 2026 tetap berada pada level yang kuat meskipun sempat mengalami penurunan. Nilainya tercatat sebesar 151,9 miliar dolar Amerika Serikat.
Kepala Departemen Komunikasi BI, Ramdan Denny Prakoso, menjelaskan bahwa jumlah cadangan devisa tersebut setara dengan pembiayaan sekitar 6,1 bulan impor atau 5,9 bulan impor ditambah pembayaran utang luar negeri pemerintah. Angka tersebut juga masih berada di atas standar kecukupan internasional yang berkisar tiga bulan impor.
“Bank Indonesia menilai cadangan devisa tersebut mampu mendukung ketahanan sektor eksternal serta menjaga stabilitas makroekonomi dan sistem keuangan,” tutur Ramdan kepada Disway dan awak media lainnya secara daring, Jumat (6/3/2026).
Ramdan mengatakan, perkembangan cadangan devisa tersebut dipengaruhi oleh beberapa faktor, antara lain penerimaan negara dari sektor pajak dan jasa serta penarikan pinjaman luar negeri oleh pemerintah, meskipun di saat yang sama terdapat kewajiban pembayaran utang luar negeri.
Selain itu, langkah kebijakan stabilisasi nilai tukar rupiah yang dilakukan BI juga turut memengaruhi dinamika cadangan devisa. Kebijakan tersebut diambil sebagai respons terhadap kondisi pasar keuangan global yang masih diliputi ketidakpastian.
“Perkembangan tersebut juga dipengaruhi oleh kebijakan stabilisasi nilai tukar Rupiah sebagai respons Bank Indonesia dalam menghadapi ketidakpastian pasar keuangan global yang tetap tinggi,” tutur Ramdan.
Ke depan, BI meyakini ketahanan sektor eksternal Indonesia tetap terjaga dengan dukungan cadangan devisa yang memadai serta potensi aliran masuk modal asing. Hal tersebut sejalan dengan pandangan positif investor terhadap prospek ekonomi nasional dan daya tarik imbal hasil investasi di dalam negeri.
“Bank Indonesia terus meningkatkan sinergi dengan Pemerintah dalam memperkuat ketahanan eksternal guna menjaga stabilitas perekonomian untuk mendukung pertumbuhan ekonomi yang berkelanjutan,” ujar Ramdan.
Di sisi lain, data BI juga menunjukkan bahwa uang primer atau M0 Adjusted mengalami pertumbuhan signifikan pada Februari 2026. Pertumbuhan tercatat sebesar 18,3 persen secara tahunan (year on year).
Angka tersebut meningkat dibandingkan pertumbuhan pada Januari 2026 yang tercatat sebesar 14,7 persen (yoy). Dengan perkembangan tersebut, total uang primer saat ini mencapai sekitar Rp2.228 triliun.
Pertumbuhan M0 Adjusted tersebut telah memperhitungkan dampak pemberian insentif likuiditas serta langkah pengendalian moneter yang dilakukan oleh Bank Indonesia.





