Jakarta – Ketua Umum Partai Golkar Bahlil Lahadalia akhirnya menghadiri sekaligus membuka Musyawarah Daerah (Musda) XI DPD I Partai Golkar Sulawesi Selatan yang sebelumnya sempat mengalami penundaan. Dalam forum tersebut, Bahlil menekankan pentingnya konsolidasi untuk mengembalikan kejayaan Partai Golkar di Sulawesi Selatan.
Di hadapan ribuan kader yang hadir di Makassar, Sabtu, Bahlil menyebut Musda merupakan forum tertinggi pengambilan keputusan di tingkat daerah yang akan menentukan arah organisasi ke depan.
“Musda itu adalah forum pengambilan keputusan tertinggi pada tingkat daerah. Musda akan melahirkan tiga keputusan besar, yaitu evaluasi kepengurusan, menyusun program kerja dan rekomendasi, serta memilih Ketua DPD Partai Golkar,” katanya dikutip Antara, Minggu (19/7/2026).
Menurut Bahlil, Sulawesi Selatan selama ini dikenal sebagai basis utama kekuatan Golkar di Kawasan Timur Indonesia. Namun, dominasi tersebut mulai berkurang setelah Pemilu 2024 sehingga diperlukan langkah konsolidasi menyeluruh untuk mengembalikan posisi partai.
Ia meminta kepengurusan baru yang nantinya terpilih segera menyelesaikan Musyawarah Cabang (Muscab) di seluruh DPD II kabupaten/kota, kemudian melanjutkan konsolidasi hingga tingkat kecamatan, kelurahan, dan desa.
“Saya meminta nanti setelah Musda selesai, dilaksanakan Muscab kabupaten kota. Selanjutnya di tingkat kecamatan dan desa. Karena, kekuatan partai kita itu ada di sana. Kalau berbicara Partai Golkar di wilayah timur, simpulnya itu di Sulawesi Selatan. Kejayaan Partai Golkar di wilayah timur selalu Sulawesi Selatan menjadi contoh,” paparnya.
Dalam kesempatan itu, Bahlil juga menjelaskan alasan pemberian hak diskresi kepada Ilham Arief Sirajuddin atau Aco untuk maju sebagai calon Ketua DPD I Golkar Sulsel. Ia menegaskan kebijakan tersebut merupakan hak prerogatif Ketua Umum yang telah diatur dalam Anggaran Dasar/Anggaran Rumah Tangga (AD/ART) partai.
“Banyak orang mengatakan kepada saya, Pak Aco pernah pindah partai. Partai Golkar adalah partai yang dewasa, partai yang penuh dengan fatsun, mekanisme, serta aturan-aturan kepartaian. Kalau sudah merasa, sekalipun sudah hijrah, cek di rumah (partai) lain tapi tidak pas, mungkin balik lagi, kita buka pintu, tidak masalah,” tuturnya.
Bahlil menilai perpindahan kader merupakan dinamika politik yang wajar. Menurutnya, aturan partai memberi ruang bagi kader untuk kembali bergabung melalui mekanisme diskresi yang menjadi kewenangan Ketua Umum.
“Kepergiannya dahulu merupakan dinamika politik yang lumrah. Begitu mau kembali, ada aturan yang memungkinkan untuk bisa. Aturan itu disebut dengan diskresi, dan itu dibenarkan dalam Anggaran Dasar yang namanya hak prerogatif ketua umum. Jadi, Pak Aco (pindah) pergi, mungkin liat-liat dulu, waktu itu mungkin mencari udara segar, ya tidak apa-apa,” ucapnya.
Ia mengaku telah lama mengenal Ilham Arief Sirajuddin yang pernah menjabat Wali Kota Makassar dua periode serta memiliki rekam jejak panjang di Partai Golkar, mulai dari Ketua AMPI hingga Ketua DPD Golkar Sulsel. Pengalaman tersebut diyakini mampu membantu mengembalikan kejayaan Golkar sekaligus meningkatkan perolehan kursi pada Pemilu 2029.
Bahlil juga menegaskan Partai Golkar tetap konsisten menjadi partai pendukung pemerintah. Meski banyak kader senior yang kemudian mendirikan atau bergabung dengan partai lain seperti Partai NasDem, Partai Gerindra, Partai Demokrat, dan Partai Hanura, menurutnya Golkar tetap berdiri kokoh menjalankan amanah konstitusi.
Sementara itu, Pelaksana Tugas (Plt) Ketua DPD I Partai Golkar Sulsel Muhidin M. Said menyatakan tugasnya telah berakhir setelah memimpin kepengurusan selama delapan bulan. Ia berharap ketua definitif yang terpilih dapat segera memperkuat konsolidasi organisasi dan mengembalikan pengaruh Partai Golkar di Sulawesi Selatan.
Sebelumnya, Musda XI Golkar Sulsel diperkirakan mempertemukan dua kandidat, yakni Ilham Arief Sirajuddin dan Munafri Arifuddin yang juga menjabat Wali Kota Makassar serta Ketua DPD II Golkar Makassar. Namun, Munafri tidak menghadiri Musda karena sedang menjalankan ibadah umrah, sehingga Ilham hampir dipastikan terpilih secara aklamasi sebagai calon tunggal.
