Jakarta – Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) terus memantau aktivitas Gunung Anak Krakatau setelah erupsi yang terjadi pada Jumat, 4 September 2026.
Berdasarkan pemantauan BMKG, aktivitas erupsi tercatat pada pukul 22.03 WIB. Meski demikian, tidak ditemukan adanya anomali pada rekaman seismograf BMKG di sekitar waktu kejadian.
“Aktivitas erupsi terekam pada stasiun seismograf dengan amplitudo maksimum 19 mm dan durasi sekitar 29 detik. Tidak ditemukan adanya anomali pada rekaman seismograf BMKG di sekitar waktu kejadian,” demikian keterangan BMKG dalam keterangan tertulis, Minggu (6/9/2026).
BMKG juga mencatat adanya letusan bertipe strombolian. Namun, kolom abu dari erupsi tersebut tidak teramati.
Selain itu, berdasarkan pemantauan hingga Sabtu, 5 September 2026 pukul 10.30 WIB, tidak terdapat kenaikan muka air laut yang signifikan yang berkaitan dengan aktivitas erupsi Gunung Anak Krakatau.
“BMKG akan terus memonitor kondisi ini secara real-time dan berkoordinasi dengan pihak terkait,” tulis BMKG.
Status Gunung Anak Krakatau Masih Siaga
Saat ini, Gunung Anak Krakatau masih berada pada Level III atau status Siaga.
BMKG meminta masyarakat tidak panik dan menjadikan informasi resmi dari Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) serta Badan Geologi sebagai rujukan utama.
Masyarakat juga diminta tidak mudah mempercayai informasi yang belum jelas sumbernya, terutama kabar yang beredar di media sosial.
“Tetap tenang dan jangan terpancing oleh isu atau hoaks yang beredar dan tidak dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya.”
