Jakarta – Partai Hanura menyuarakan keresahannya terhadap mekanisme Pemilihan Umum (Pemilu) saat ini yang dinilai terlalu ramah kapital. Hanura mendesak adanya reformasi sistem pemilu agar para calon legislatif (caleg) yang memiliki kapasitas dan integritas tidak gugur hanya karena kalah tebal dompet.
Wakil Ketua Umum Partai Hanura yang juga menjabat Ketua Tim Satuan Tugas (Satgas) DPP Hanura, Patrice Rio Capella, menyoroti betapa dominannya peran modal finansial dalam memengaruhi peta persaingan antarcaleg di lapangan.
“Selama ini pemilu itu seperti pasar bebas ya. Orang yang bagus nomor satu, aktivis di partai, wawasannya oke, hanya kalah pada modal atau kapital,” kata Rio usai menghadiri acara konsolidasi tim task force di Batam, Kepulauan Riau, Selasa dikutip dari keterangan diterima di Jakarta.
Menurut Rio, skema kompetisi yang berjalan sekarang berisiko tinggi menyingkirkan kader-kader potensial yang telah meniti karier dan berdarah-darah membangun partai dari bawah. Ironisnya, posisi mereka justru tergeser oleh figur pendatang baru yang minim kontribusi berpartai namun berlimpah modal.
Oleh sebab itu, Rio menegaskan perlunya mengembalikan kewenangan dan peran partai politik dalam menyaring serta menetapkan calon anggota dewan yang benar-benar berbobot.
“Nah oleh karena itu, seharusnya ada peran partai politik juga dalam meletakkan seorang menjadi calon jadi seperti dulu,” ujarnya.
Solusi Hanura: Kawinkan Sistem Tertutup dan Terbuka
Sebagai jalan keluar, Hanura menawarkan gagasan untuk menerapkan kombinasi antara sistem proporsional tertutup dan proporsional terbuka. Formulasi ini diyakini memberi ruang bagi partai untuk menaruh kader-kader terbaik di nomor urut atas, tanpa mematikan hak caleg lain untuk berebut kursi lewat perolehan suara terbanyak.
“Menurut kami, apapun ceritanya berikan kesempatan kepada partai politik untuk mengedepankan calon-calon yang berkualitas dari partainya, tanpa menutup juga peluang untuk orang berjuang untuk mendapatkan kursi tambahan yaitu dengan urutan suara terbanyak,” kata Rio.
Skema hibrida tersebut dinilai mampu memicu gairah para politisi muda untuk fokus membesarkan wadah partainya terlebih dahulu sebelum melenggang ke panggung kontestasi politik.
“Sehingga ada penghargaan dan membudayakan agar orang itu menjadi caleg dengan cara membesarkan partainya dulu,” tuturnya.
