Harga Emas Anjlok Lagi, Saatnya Beli atau Jual?

Jakarta – Harga emas dunia kembali mengalami tekanan pada perdagangan Kamis (16/7/2026) setelah sebelumnya juga melemah sehari sebelumnya. Pelemahan ini dipicu melonjaknya harga minyak dunia yang memicu kembali kekhawatiran terhadap inflasi global.

Berdasarkan data BCA Sekuritas, harga emas spot terkoreksi 0,6 persen menjadi USD 4.034,42 per ons. Sementara itu, kontrak berjangka emas Amerika Serikat untuk pengiriman Agustus juga turun 0,3 persen ke level USD 4.039,90 per ons.

“Harga emas spot turun 0,6 persen menjadi USD 4.034,42 per ons. Di tempat lain, harga perak spot turun 1,1 persen menjadi USD 57,14 per ons, dan platinum turun 0,6 persen menjadi USD 1.664,” tulis data tersebut, Kamis (16/7/2026).

Analis Riset Senior IndusInd Securities, Jigar Trivedi, menjelaskan bahwa lonjakan harga minyak akibat memanasnya konflik geopolitik di Timur Tengah telah mengubah sentimen pasar dan mengurangi optimisme terhadap penurunan inflasi.

“Harga emas menurun karena serangan yang meningkat di Timur Tengah terus mendorong harga minyak naik tajam minggu ini, menjaga kekhawatiran tentang inflasi tetap ada,” jelas Trivedi.

Harga minyak tercatat menguat untuk sesi keempat berturut-turut setelah Amerika Serikat melancarkan dua gelombang serangan terhadap Iran. Kondisi tersebut memicu kekhawatiran baru mengenai pasokan energi global.

Meski demikian, Trivedi menilai data inflasi Amerika Serikat sebenarnya menunjukkan tren yang lebih baik sebelum ketegangan terbaru di Timur Tengah kembali meningkat.

“Angka inflasi Juni tidak mencerminkan dampak dari eskalasi terbaru dalam konflik AS-Iran, karena persatuan perdamaian sementara yang dicapai bulan lalu telah secara efektif terurai,” ucap Trivedi.

Sementara itu, Analis Vantage Markets di Melbourne, Hebe Chen, menilai meningkatnya tensi geopolitik turut memengaruhi ekspektasi pasar terhadap arah kebijakan suku bunga bank sentral Amerika Serikat (The Fed).

Menurutnya, pelaku pasar mulai memperkirakan suku bunga akan bertahan tinggi lebih lama sebagai respons terhadap ancaman inflasi, sebagaimana tercermin dalam risalah rapat The Fed yang dirilis pekan lalu.

Meski begitu, Chen melihat peluang harga emas untuk kembali menguat masih terbuka apabila situasi di Timur Tengah mulai mereda.

“Kecuali pertempuran di sekitar Hormuz mereda secara signifikan, harga minyak yang tinggi dan dolar yang lebih kuat dapat membuat emas tetap tertekan minggu ini,” ucap Chen.

 

Berita Lainnya

Politikus Gerindra Dukung Mekanisme In Rem dalam RUU Perampasan Aset

Jakarta - Anggota Komisi III DPR RI sekaligus Ketua Kelompok Fraksi (Kapoksi) Partai Gerindra, Muhammad Rahul, mendukung penguatan Rancangan Undang-Undang (RUU) Perampasan Aset agar...

3 Gunung Api Masih Siaga, BNPB Ingatkan Ancaman Erupsi hingga Lahar Hujan

Jakarta - Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mengingatkan masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan menyusul aktivitas tiga gunung api di Indonesia yang masih berstatus Level III...

Dari Penerima Bansos Jadi Pelaku Usaha, KDKMP Buka Peluang Ekonomi Produktif

Jakarta - Koperasi Desa/Kelurahan Merah Putih (KDKMP) didorong menjadi wadah pemberdayaan ekonomi masyarakat, termasuk keluarga penerima manfaat (KPM) bantuan sosial. Melalui koperasi, masyarakat tidak hanya...

Stay Connected

0FansSuka
0PengikutMengikuti
0PelangganBerlangganan
- Advertisement -

FEED NEWS