Bangkit Pascabanjir, Warga Subulussalam Semarakkan Lebaran dengan Balap Robin

Masyarakat di Kecamatan Rundeng, Kota Subulussalam, Aceh, mulai bangkit setelah dilanda bencana banjir pada akhir November 2025.

Jakarta – Masyarakat di Kecamatan Rundeng, Kota Subulussalam, Aceh, mulai bangkit setelah dilanda bencana banjir pada akhir November 2025. Semangat pemulihan itu terlihat dari meriahnya tradisi Balap Robin yang kembali digelar pada momen Idul Fitri 1447 Hijriah.

Balap Robin, atau dikenal juga sebagai Robin Cross, merupakan perlombaan perahu kayu bermesin robin yang biasa digunakan nelayan. Ajang ini digelar di Sungai Lae Soraya dan menjadi hiburan khas masyarakat setiap perayaan Lebaran.

Bacaan Lainnya

Antusiasme warga terlihat tinggi, dengan ratusan orang memadati bantaran sungai untuk menyaksikan adu kecepatan perahu-perahu tersebut. Suara mesin yang khas dan persaingan sengit antar peserta menambah kemeriahan suasana.

Salah satu warga, Tengku Fikri Wirlandi Kombi, menilai kegiatan ini membawa dampak positif bagi masyarakat, terutama dalam mempererat hubungan sosial sekaligus mendorong aktivitas ekonomi lokal.

“Kegiatan ini sangat positif karena menjunjung tinggi silaturahmi antara masyarakat. Dan kami harap kepada pemerintah agar selalu men-support event-event tahunan ini,” ujarnya, Rabu (25/3).

Ia juga menyebut, kehadiran Balap Robin turut membantu pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM) yang berjualan di sekitar lokasi acara.

Sementara itu, Ketua Panitia Balap Robin, Muhammad Ikhwan Sambo, mengatakan kegiatan ini mendapat dukungan dari unsur Musyawarah Pimpinan Kecamatan (Muspika) Rundeng.

“Masyarakat yang mengikuti perlombaan ini dari kalangan masyarakat seluruh Kecamatan Rundeng. Kami berencana mengajukan ke pemerintah kota untuk dilangsungkan perlombaan tingkat kota,” jelasnya.

Dalam pelaksanaannya, sempat terjadi insiden ketika salah satu perahu peserta karam akibat derasnya arus sungai. Namun, berkat kesiapsiagaan panitia, situasi dapat segera diatasi tanpa menimbulkan korban.

Panitia berharap Balap Robin dapat terus digelar setiap tahun sebagai sarana mempererat silaturahmi sekaligus melestarikan budaya sungai yang menjadi identitas masyarakat Rundeng.

Pos terkait