Besok Dibacakan! Nadiem Hadapi Tuntutan Kasus Chromebook Rp2,18 Triliun, Status Tahanan Mendadak Berubah

Jakarta – Sidang pembacaan tuntutan terhadap Nadiem Anwar Makarim dalam kasus dugaan korupsi pengadaan Chromebook dijadwalkan berlangsung di Pengadilan Tindak Pidana Korupsi pada Pengadilan Negeri Jakarta Pusat, Rabu (13/5/2026).

Ketua Majelis Hakim, Purwanto Abdullah, menyatakan proses pembuktian dalam perkara tersebut telah selesai sehingga jaksa penuntut umum diberi kesempatan membacakan tuntutan.

“Atas permintaan penuntut umum, mohon untuk diberikan kesempatan membacakan tuntutan di hari Rabu (13/5/2026),” ujar hakim saat menutup sidang pemeriksaan terdakwa, Senin malam, (11/5/2026).

Menjelang agenda tuntutan, majelis hakim juga mengabulkan permohonan pengalihan status tahanan Nadiem dari tahanan rumah tahanan negara menjadi tahanan rumah mulai Selasa (12/5/2026).

Meski demikian, hakim memberikan sejumlah syarat ketat kepada mantan Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi periode 2019–2024 tersebut. Hakim menegaskan status tahanan rumah dapat dicabut apabila syarat yang ditetapkan dilanggar.

Majelis hakim menegaskan keputusan pengalihan status tahanan itu murni didasarkan pada kondisi kesehatan Nadiem, bukan karena faktor lain.

Dalam perkara ini, Nadiem didakwa terlibat korupsi program digitalisasi pendidikan berupa pengadaan laptop Chromebook dan Chrome Device Management (CDM) di lingkungan Kementerian Pendidikan Kebudayaan Riset dan Teknologi pada periode 2019–2022.

Kerugian negara dalam kasus tersebut disebut mencapai Rp2,18 triliun.

Jaksa menduga pengadaan perangkat Chromebook dan CDM dilakukan tidak sesuai perencanaan maupun prinsip pengadaan barang dan jasa pemerintah.

Perkara itu juga menyeret sejumlah nama lain, yakni Ibrahim Arief, Mulyatsyah, Sri Wahyuningsih, serta Jurist Tan yang hingga kini masih berstatus buron.

Secara rinci, kerugian negara disebut terdiri dari Rp1,56 triliun terkait program digitalisasi pendidikan, serta sekitar 44,05 juta dolar AS atau setara Rp621,39 miliar akibat pengadaan CDM yang dinilai tidak diperlukan dan tidak memberikan manfaat.

Jaksa juga menduga Nadiem menerima uang sebesar Rp809,59 miliar dari PT Aplikasi Karya Anak Bangsa melalui PT Gojek Indonesia.

Sebagian sumber dana tersebut disebut berasal dari investasi Google senilai 786,99 juta dolar AS.

Dugaan itu dikaitkan dengan laporan harta kekayaan Nadiem dalam Laporan Harta Kekayaan Penyelenggara Negara tahun 2022 yang mencatat kepemilikan surat berharga senilai Rp5,59 triliun.

Atas perkara tersebut, Nadiem dijerat Pasal 2 ayat (1) atau Pasal 3 junto Pasal 18 Undang-Undang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi junto Pasal 55 ayat (1) KUHP.

Berita Lainnya

Kemarau Meluas, Kementerian PU Tangani 3.288 Lokasi dan Salurkan 48,9 Juta Liter...

Jakarta - Pemerintah memperkuat langkah antisipasi menghadapi kemarau dan kekeringan yang melanda sejumlah wilayah di Indonesia. Penanganan dilakukan dengan menyasar kebutuhan air untuk pertanian...

Sekolah Rakyat Ditegaskan Melengkapi Sekolah Negeri, Sasar Anak Keluarga Rentan

Jakarta - Kementerian Sosial (Kemensos) menegaskan program Sekolah Rakyat hadir untuk melengkapi sistem pendidikan nasional, terutama dalam memperluas akses bagi anak-anak dari keluarga kurang...

Prabowo Apresiasi Emas Pertama Indonesia di Asian Games 2026

Jakarta - Presiden Prabowo Subianto menyampaikan apresiasi kepada kontingen Indonesia setelah tim bulu tangkis beregu putra mempersembahkan medali emas pertama bagi Merah Putih di...

Stay Connected

0FansSuka
0PengikutMengikuti
0PelangganBerlangganan
- Advertisement -

FEED NEWS