Menkeu Purbaya: Ekonomi Domestik Tengah Ekspansi Kuat, Tak Perlu Khawatir Risiko Global

Jakarta – Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengatakan bahwa ekonomi Indonesia tengah mengalami ekspansi yang kuat pada kuartal I tahun ini. Kondisi tersebut diharapkan dapat membantu Indonesia menghadapi ketidakpastian global, termasuk eskalasi tensi geopolitik di Timur Tengah yang terjadi saat ini.

“Ekonomi Indonesia sedang mengalami masa ekspansi dalam posisi yang kuat. Kalau kita harus menghadapi dampak negatif dari gejolak perekonomian global, tidak usah takut. Kita bisa mengendalikan dampak negatif dengan baik ke depan,” ujar Purbaya dalam konferensi pers, Rabu (11/3).

Secara rinci, ia kemudian memaparkan sejumlah indikator yang mencerminkan ekspansi ekonomi domestik.

Pertama, ia merujuk pada Purchasing Managers’ Index (PMI) manufaktur yang mencapai 53,8 pada Februari. Angka tersebut tidak hanya menunjukkan ekspansi aktivitas manufaktur, tetapi juga menjadi level indeks tertinggi dalam dua tahun terakhir.

Purbaya mengatakan bahwa capaian tersebut bahkan lebih baik dibandingkan sejumlah negara besar seperti China, Amerika Serikat, dan Australia. Menurutnya, kondisi ini menjadi sinyal positif bagi aktivitas ekonomi nasional.

Kedua, ia juga menyoroti Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) yang mencapai 125,2 pada Februari. Skor tersebut menunjukkan masyarakat masih optimistis terhadap kondisi ekonomi, mengingat indeks berada di atas ambang batas optimisme di level 100.

Ketiga, konsumsi masyarakat juga tercatat terus tumbuh positif pada awal tahun. Hal ini tercermin dari Mandiri Spending Index (MSI) Februari yang mencapai 360,7 poin.

“Belanja masyarakat menjelang Ramadan ini terutama didorong konsumsi consumer goods, pendidikan, dan mobilitas. Jadi memang dari sini daya beli masyarakat sepertinya terus membaik dan menguat,” imbuh dia.

Kendati demikian, Purbaya menegaskan bahwa pemerintah tetap mewaspadai dampak ketidakpastian global terhadap kondisi makroekonomi Indonesia. Salah satu risiko yang menjadi perhatian adalah potensi disrupsi rantai pasok menyusul penutupan Selat Hormuz akibat meningkatnya tensi geopolitik di kawasan Iran.

Namun, ia memastikan instrumen fiskal akan tetap bekerja secara responsif untuk menjaga stabilitas ekonomi serta daya beli masyarakat.

“Pemerintah akan terus mewaspadai tantangan rantai pasok yang masih terkendala, serta risiko kenaikan inflasi terhadap biaya input agar momentum pemulihan ekonomi domestik tetap terjaga,” pungkas dia.

Berita Lainnya

Kejagung Geledah Rumah Febrie, Dokumen Penting Kasus TPPU Disita

Jakarta - Kejaksaan Agung (Kejagung) melalui Tim Penyidik yang dikenal sebagai Tim Sembilan melakukan penggeledahan di salah satu rumah milik mantan Jaksa Agung Muda...

ATR/BPN Pangkas Waktu Layanan Pertanahan, Pengukuran Tanah Maksimal 12 Hari

Jakarta - Menteri Agraria dan Tata Ruang/Kepala Badan Pertanahan Nasional (ATR/BPN) Nusron Wahid mempercepat standar pelayanan pertanahan melalui transformasi sistem yang akan mulai diterapkan...

Skandal Rumdin Kalapas Viral Lagi, Ditjenpas Tegas: Oknum Sudah Dipenjara!

Jakarta - Media sosial mendadak dihebohkan dengan beredarnya kembali video penggerebekan berdurasi 3 menit di Rumah Dinas Kepala Lembaga Pemasyarakatan (Kalapas) Waingapu, Sumba Timur,...

Stay Connected

0FansSuka
0PengikutMengikuti
0PelangganBerlangganan

FEED NEWS