Jakarta – Presiden Prabowo Subianto mendorong penguatan industri tekstil dan produk tekstil (TPT) nasional. Sektor ini dinilai memiliki peran penting karena tidak hanya berkontribusi terhadap perekonomian, tetapi juga menjadi salah satu penyerap tenaga kerja dalam jumlah besar.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan industri TPT memiliki rantai usaha yang luas, mulai dari sektor hulu hingga hilir. Karena itu, pemerintah berupaya memperkuat industri tersebut agar tetap mampu bertahan dan berkembang di tengah ketidakpastian ekonomi global.
Airlangga menyebut kontribusi industri TPT saat ini mencapai 0,97 persen terhadap perekonomian. Sektor tersebut juga menyerap sekitar 4 juta tenaga kerja dan memiliki nilai ekspor sekitar USD 12 miliar.
“Kemudian ini menjadi salah satu sektor padat yang strategis dan dalam arahan tadi terhadap Pak Presiden, kita sampaikan bahwa TPT ini tumbuhnya di atas pertumbuhan ekonomi, yaitu 5,6 persen,” ujar Airlangga dalam keterangannya di Istana Negara, Selasa (22/9/2026).
Atas kondisi tersebut, Presiden Prabowo meminta berbagai persoalan yang menghambat industri TPT segera ditangani. Salah satu yang menjadi perhatian adalah harmonisasi tarif dari sektor hulu hingga hilir.
“Kemudian khusus persoalan yang dihadapi oleh tekstil, produk tekstil itu salah satunya adalah tentunya harmonisasi tarif dari hulu ke hilir. Karena di hulu kemarin ada beberapa tanggapan dari industri garmen terkait dengan biaya masuk antidumping,” katanya.
Airlangga mengatakan penyelesaian berbagai hambatan tersebut dapat membuka ruang bagi industri TPT untuk meningkatkan kontribusinya sekaligus memperluas penyerapan tenaga kerja.
“Kita melihat bahwa utilisasi daripada pabrik tekstil itu masih sekitar 75 persen, sehingga masih ada ruang untuk melakukan ekspansi,” jelasnya.
Pemerintah juga akan melakukan pemetaan industri berdasarkan subsektor, seperti tekstil, pakaian, kulit, dan alas kaki. Langkah tersebut diperlukan agar kebijakan yang diberikan dapat disesuaikan dengan persoalan yang dihadapi masing-masing subsektor.
Airlangga mencontohkan neraca perdagangan tekstil bahan baku yang masih mengalami defisit. Nilai impornya tercatat USD 8,4 miliar, sedangkan ekspornya sekitar USD 3,1 miliar.
Kondisi berbeda terjadi pada subsektor tekstil pakaian yang mencatat surplus perdagangan. Nilai ekspornya mencapai USD 8,7 miliar, sementara impornya sekitar USD 690 juta.
“Nah, tadi ada beberapa catatan terkait dengan hambatan. Yang pertama tentu terkait dengan kemudahan bahan baku untuk masuk. Bapak Presiden tadi meminta kita untuk mereview terkait dengan pertek dan yang lain,” jelasnya.
Selain persoalan bahan baku, pemerintah juga menyoroti masuknya produk tekstil secara ilegal ke pasar domestik. Menurut Airlangga, Presiden telah meminta Kementerian Keuangan melakukan penertiban terhadap aktivitas tersebut karena berpotensi mengganggu industri dalam negeri.
“Itu tadi juga diminta Pak Dirjen Bea Cukai untuk segera ditertibkan. Karena hal ini sangat mengganggu produsen-produsen garmen di dalam negeri,” terangnya.
Dari sisi pembiayaan, Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala BKPM Rosan P Roeslani mengatakan pemerintah akan mendorong perbankan, khususnya bank-bank Himbara, untuk memberikan akses pembiayaan yang lebih mudah bagi pelaku industri TPT.
Salah satu kebutuhan pembiayaan tersebut ditujukan untuk membantu perusahaan melakukan peremajaan mesin yang sudah berusia tua. Langkah ini dinilai berkaitan dengan peningkatan daya saing produk tekstil dan garmen nasional.
“Agar Bank Himbara dan juga bank nasional lainnya memberikan pinjaman, terutama dalam rangka perbaikan mesin-mesin yang sudah cukup tua. Karena memang kita bicara masalah daya saing atau competitiveness dari produk tekstil garmen kita mungkin yang agak ketinggalan,” jelas Rosan.
Selain dukungan pembiayaan, pemerintah juga mempertimbangkan pemberian kembali insentif fiskal berupa tax holiday dan tax allowance untuk investasi baru di sektor tersebut.
“Nah ini untuk tekstil akan dikonsider untuk diberikan kembali tax holiday. Ya itu salah satunya dan kami di Danantara juga akan menyiapkan satu daerah khusus untuk integrasi dari hulu ke hilir agar lebih efisien dengan menggunakan teknologi yang baik dan benar untuk membuat produk-produk kita juga mempunyai daya saing yang lebih baik,” pungkasnya.
