Prabowo Pilih Jalan Damai Sikapi Dinamika Global, Menguntungkan untuk Indonesia

Jakarta — Ustaz Muhammad Subki Al-Bughury menilai Presiden RI Prabowo Subianto cenderung mengambil pendekatan moderat dan jalan tengah dalam menyikapi berbagai persoalan geopolitik global maupun regional.

Hal tersebut disampaikan Subki setelah mengikuti acara Silaturahmi Presiden Republik Indonesia dengan para kiai dan tokoh organisasi kemasyarakatan Islam di halaman Istana Merdeka, Jakarta, Kamis malam (5/3).

Dalam kesempatan tersebut, Subki menyebut Prabowo berbicara mengenai berbagai isu geopolitik terkini serta perkembangan situasi di Timur Tengah. Ia menilai sepanjang paparannya, Prabowo mengedepankan pendekatan jalan tengah (wasathiyah) yang berupaya menghadirkan solusi saling menguntungkan bagi Indonesia tanpa harus melalui konfrontasi.

“Yang saya tangkap adalah bagaimana Presiden dalam mengambil keputusan. Beliau sepertinya lebih mengambil jalan tengah, jalan moderat, jalan wasathiyah, dengan menimbang apa yang paling menguntungkan bagi bangsa Indonesia,” ujar Subki.

Ia menjelaskan pendekatan tersebut juga tercermin dalam cara Prabowo memandang berbagai persoalan kawasan, seperti sengketa di Laut Cina Selatan, wilayah Natuna, hingga isu perbatasan dengan Malaysia di Ambalat.

Menurut Subki, Prabowo lebih memilih pendekatan win-win solution dibandingkan konflik terbuka yang berpotensi tidak menghasilkan keuntungan bagi semua pihak.

“Kalau dalam bahasa beliau, daripada tempur atau perang yang akhirnya dari nol menjadi nol, artinya kita tidak mendapatkan apa-apa, lebih baik mencari solusi yang saling menguntungkan,” kata Subki.

Sementara itu, terkait isu Israel dan Palestina, Subki menyebut Prabowo memandang penting untuk mencari jalan damai agar konflik yang berkepanjangan tersebut dapat segera diakhiri.

“Kalau konflik ini terus berlanjut tanpa penyelesaian, kapan kita bisa menolong saudara-saudara kita di Palestina. Karena itu harus ada usaha untuk mencari jalan damai,” ujarnya.

Ia menambahkan bahwa salah satu gagasan yang disampaikan adalah kemungkinan pengakuan secara timbal balik. Dalam skema tersebut, apabila Israel mengakui kemerdekaan Palestina, maka secara adil Indonesia juga dapat mempertimbangkan pengakuan terhadap Israel, dengan syarat penghentian berbagai tindakan kekerasan terhadap rakyat Palestina.

Berita Lainnya

Perry Warjiyo Mundur, Destry Damayanti Ditunjuk Jadi Plt Gubernur BI!

Jakarta - Kursi pimpinan tertinggi Bank Indonesia mengalami pergantian mendadak setelah Perry Warjiyo secara sukarela memutuskan mundur dari jabatan Gubernur BI akibat alasan pribadi...

Kemenkes Genjot Tes HIV untuk Cegah Penularan

Jakarta - Pemerintah terus memperkuat upaya pencegahan penyebaran HIV dengan memperluas layanan tes di berbagai fasilitas kesehatan. Langkah ini dilakukan agar semakin banyak masyarakat...

Nusron Wahid Apresiasi Buddha Tzu Chi dan Aguan, Percepat Pembangunan Huntap Korban...

Jakarta - Menteri Agraria dan Tata Ruang/Kepala Badan Pertanahan Nasional (ATR/BPN) Nusron Wahid mengapresiasi Yayasan Buddha Tzu Chi dan Sugianto Kusuma atau Aguan atas...

Stay Connected

0FansSuka
0PengikutMengikuti
0PelangganBerlangganan

FEED NEWS