Jakarta – Pemerintah mendistribusikan 5.538.300 eksemplar buku bacaan bermutu ke 18.444 sekolah dasar (SD) dan 6.165 sekolah menengah pertama (SMP) yang tersebar di 510 kabupaten/kota pada 38 provinsi. Program yang mulai dilaksanakan pada Kamis (31/7) ini menjadi bagian dari upaya memperluas akses terhadap bacaan berkualitas sekaligus memperkuat budaya literasi di lingkungan sekolah.
Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Abdul Mu’ti mengatakan penguatan literasi dan numerasi merupakan bagian dari implementasi Asta Cita keempat Presiden Prabowo Subianto yang menitikberatkan pada pembangunan sumber daya manusia. Oleh karena itu, peningkatan minat baca anak menjadi salah satu agenda utama yang terus didorong melalui kerja sama dengan berbagai pihak.
“Kami berusaha dengan segala kemampuan agar minat baca anak dapat ditingkatkan. Bersama mitra, termasuk Pura Barutama dan PT Mars Akbar Mandiri, kami berharap program ini berjalan lancar dan memberi manfaat bagi anak-anak Indonesia,” ujar Abdul Mu’ti seperti dikutip, Senin (3/8/2026).
Menurutnya, Kemendikdasmen menjalankan tiga strategi utama dalam memperkuat kualitas literasi. Langkah tersebut meliputi membangun kebiasaan membaca (book engagement), meningkatkan kemampuan membaca, serta memastikan ketersediaan bahan bacaan yang bermutu di sekolah.
Sekolah penerima bantuan diprioritaskan bagi satuan pendidikan yang berdasarkan hasil Asesmen Nasional 2025 masih berada di bawah standar kompetensi minimum pada aspek literasi dan belum pernah menerima bantuan buku pada tahun-tahun sebelumnya. Dengan demikian, distribusi buku difokuskan kepada sekolah yang paling membutuhkan penguatan literasi.
Buku yang disalurkan terdiri atas buku bergambar untuk siswa SD, serta komik dan novelet bagi siswa SMP. Ragam bacaan tersebut diharapkan mampu membuat kegiatan membaca menjadi lebih menarik sekaligus menumbuhkan kebiasaan membaca sejak dini.
Tenaga Ahli Utama Badan Komunikasi Pemerintah RI, Hariqo Wibawa Satria, mengapresiasi komitmen Kemendikdasmen dalam menghadirkan pendidikan yang inklusif. Menurutnya, penyediaan buku berhuruf braille maupun sumber belajar dalam bentuk audio dan video bagi anak berkebutuhan khusus menjadi langkah penting untuk meningkatkan kualitas literasi nasional.
“Upaya ini harus terus diperkuat sebagai bagian dari peningkatan mutu literasi nasional,” ujarnya.
Sementara itu, Kepala Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa (Badan Bahasa), Hafidz Muksin, memastikan seluruh buku yang didistribusikan telah dilengkapi pedoman pemanfaatan sehingga dapat digunakan secara optimal oleh guru, kepala sekolah, maupun peserta didik.
“Di dalam buku-buku yang dikirimkan, sudah dilengkapi dengan pedoman pemanfaatan buku tersebut, sehingga diharapkan nanti akan mempermudah para guru, kepala sekolah, dan murid untuk memanfaatkan buku-buku tersebut,” katanya.
Hafidz berharap kolaborasi berbagai pihak dalam program ini semakin memperluas akses anak-anak Indonesia terhadap bacaan berkualitas sehingga mampu melahirkan generasi yang cerdas, kritis, berkarakter, dan siap menghadapi tantangan masa depan.
“Langkah kita bersama ini menjadi pendorong agar buku bacaan bermutu yang didistribusikan bermanfaat dengan maksimal. Semoga yang kita lakukan dapat menghasilkan murid-murid yang cerdas, kritis, dan berkarakter guna mendukung kemajuan bangsa Indonesia,” ujarnya.
Hingga 2026, Kemendikdasmen telah menyalurkan lebih dari 42 juta eksemplar buku bacaan bermutu ke berbagai daerah di Indonesia. Program tersebut turut diperkuat oleh hasil kajian Pusat Standar Kebijakan Pendidikan (PSKP) tahun 2025 yang menunjukkan sekolah penerima bantuan buku mencatat peningkatan capaian literasi yang lebih baik dibandingkan sekolah pembanding.
