Jakarta – Analis komunikasi politik Hendri Satrio menilai wajar jika Jusuf Kalla merasa tersinggung atas serangan dari relawan pendukung Joko Widodo yang kerap disebut “termul”. Ia mengingatkan agar persoalan ini tidak dibiarkan berlarut-larut.
Menurut Hensa, sapaan akrab Hendri Satrio, apa yang disampaikan JK terkait polemik ijazah Jokowi sejatinya mencerminkan kegelisahan publik yang lebih luas. Ia menyoroti lamanya isu tersebut bergulir tanpa kejelasan.
“Concern Pak JK tentang ijazah Pak Jokowi ini memang concern umum, seluruh rakyat Indonesia. Kenapa begitu lama dan bertele-tele? Padahal ada contoh seperti Hakim MK Arsul Sani yang langsung menunjukkan ijazahnya dan selesai,” ujarnya.
Hensa juga mengkritisi argumen Jokowi yang menyatakan bahwa pihak penuduh harus membuktikan dugaan ijazah palsu. Menurutnya, sebagai mantan presiden dan tokoh nasional, diperlukan langkah yang lebih terbuka untuk menjawab keraguan publik.
“Kalau Pak Jokowi bukan presiden ketujuh dan bukan tokoh bangsa, mungkin argumen itu bisa diterima. Tapi justru karena statusnya, dibutuhkan langkah yang tidak biasa untuk dipertontonkan kepada publik,” katanya.
Ia menegaskan bahwa kunci penyelesaian polemik tersebut berada pada Universitas Gadjah Mada. Pernyataan resmi dari pihak kampus, menurutnya, dapat menjadi penentu akhir dari perdebatan yang berkembang.
“Standpoint saya sejak awal adalah UGM. Kalau UGM mengatakan Jokowi kuliah dan lulus, maka selesai buat saya. Maka justru UGM harus dilibatkan dalam proses pembuktian ini,” jelasnya.
Terkait serangan terhadap JK, Hensa mengingatkan bahwa sosok tersebut merupakan tokoh bangsa yang patut dihormati. Ia pun mengajak para relawan untuk mengedepankan pendekatan yang lebih bijak dalam menyikapi perbedaan pandangan.
“Termul atau relawan Jokowi yang menyerang Pak JK bisa menggunakan teknologi paling canggih yang diwariskan para pendiri bangsa, namanya musyawarah. Ketemu Pak JK, dan kembali menjadi satu kesatuan bangsa yang bersinergi positif,” pungkasnya.
