Oleh: Ki Edi Susilo
Penikmat Kopi Hitam & Penjaga Narasi
Sambil menyesap kopi hitam dengan sedikit gula, sekadar untuk membunuh rasa getir yang berlebihan, tapi tetap menyisakan kejujuran rasa pahitnya. saya termenung melihat langit malam.
Riuh kembang api meledak di angkasa. Indah, memang. Namun, di balik percikan cahaya itu, tersimpan rima sejarah yang amat panjang, melintasi ribuan tahun peradaban manusia.
Kita sering lupa, kembang api yang kita saksikan malam ini bukan sekadar hiburan instan. Ia adalah saksi bisu bagaimana manusia bernegosiasi dengan api, rasa takut, dan harapan.
Jejak Api dari Masa ke Masa
Mari kita putar jarum waktu. Jauh sebelum angka tahun dimulai, sekitar 600 SM di tanah Persia, kaum Majusi sudah memuliakan api. Bagi mereka, api bukan benda untuk disembah, melainkan simbol kesucian dan cahaya Tuhan yang abadi. Api adalah pembeda antara kebenaran dan kebatilan. Ribuan tahun lalu, mereka sudah sadar, tanpa cahaya, manusia akan tersesat dalam kegelapan pikiran.
Lalu, sejarah bergeser ke timur. Sekitar abad ke-9, para alkemis Tiongkok secara tidak sengaja menemukan bubuk mesiu. Awalnya, ledakan itu digunakan untuk mengusir “Nian” makhluk mitis pengganggu ketenangan. Di sinilah kembang api lahir sebagai alat “pembersih” suasana dari energi negatif. Masuk ke abad ke-17, ia mendarat di Eropa, menjadi simbol kemakmuran dan perayaan.
Hingga sampailah kita di ambang 2026 ini. Kita berdiri di puncak teknologi, di mana kembang api dikontrol presisi oleh komputer. Namun, esensinya tetap sama. manusia selalu butuh “cahaya” untuk menandai awal yang baru.
Satu Langit, Satu Cahaya
Namun, di tengah kemegahan cahaya itu, nurani saya terusik. Dunia ini sudah cukup gelap dengan konflik. Jangan ditambah lagi. Biarlah kembang api menjadi pengingat bahwa di langit yang sama, kita semua sedang mencari cahaya yang satu.
Lihatlah ke atas saat kembang api memuncah. Di sana, tak ada sekat kasta, tak ada batas negara, tak ada warna ideologi. Cahaya itu menerangi mata siapa saja tanpa memilih. Jika langit saja bisa menjadi rumah bagi jutaan percikan warna yang berbeda dalam satu harmoni, mengapa bumi kita harus bersimbah darah hanya karena perbedaan persepsi?
Sudah saatnya kita menghentikan kegaduhan yang tak perlu. Konflik hanyalah residu dari ego yang gagal kita jinakkan. Mewujudkan hidup yang tertib, damai, salam, dan bahagia bukanlah utopia jika kita mau meletakkan senjata kebencian dan menggantinya dengan cangkir persaudaraan. Biarlah api yang kita nyalakan hari ini bukan lagi api yang membakar hangus peradaban, melainkan api yang menghangatkan jiwa-jiwa yang kedinginan karena permusuhan.
Sebuah Harapan di Dasar Cangkir
Sambil mengaduk ampas kopi yang mulai turun ke dasar cangkir, saya berpikir, peradaban dijaga oleh mereka yang paham sejarah dan memiliki kebijaksanaan. Jangan sampai kembang api hanya menjadi sampah di pagi hari tanpa menyisakan renungan di hati.
Kita semua adalah musafir di bawah kolong langit yang sama. Mencari makna, mencari bahagia. Mari kita bersepakat, biarlah sengketa berhenti di sini, dan biarlah damai menjadi satu-satunya bahasa yang kita gunakan untuk menyapa masa depan.
Mari kita habiskan sisa kopi ini, lalu melangkah ke depan dengan kepala tegak dan hati yang lapang. Selamat menjaga peradaban.





