Jakarta – Analis komunikasi politik Hendri Satrio atau yang akrab disapa Hensa menilai Sekretaris Kabinet Teddy Indra Wijaya kini mulai dikenal luas oleh masyarakat, bukan hanya sebagai sosok dekat Presiden Prabowo Subianto.
Menurut Hensa, popularitas Teddy terus meningkat dan mulai mendapat perhatian publik hingga ke wilayah terluar Indonesia. Hal itu terlihat saat Teddy mendampingi Presiden Prabowo dalam kunjungan kerja ke Pulau Miangas, Kabupaten Talaud, Sulawesi Utara.
Dalam kunjungan tersebut, nama Teddy disebut mendapat sambutan antusias dari warga yang hadir.
“Terlihat dari kunjungan ke pulau terluar Indonesia saja, Teddy Indra Wijaya sekarang mulai dikenal publik bukan sekadar sebagai orang dekatnya pak Prabowo, ia sekarang tumbuh sebagai salah satu figur populer nasional,” ujar Hensa dalam keterangannya di Jakarta, Minggu.
Hensa menjelaskan, masyarakat saat ini mulai mengenali Teddy bukan semata karena memahami tugas dan jabatannya sebagai Seskab, melainkan karena kehadirannya yang konsisten di berbagai momentum penting pemerintahan.
Menurutnya, dalam dunia politik, konsistensi tampil di ruang publik memiliki nilai strategis yang besar.
“Orang mungkin tidak hafal tugas dia apa-apa, tetapi sudah tahu siapa dia, tahu bahwa dia sering muncul di momen yang berat, yang simbolik, yang emosional. Di politik, itu nilainya besar, soalnya kadang yang paling berpengaruh justru bukan yang paling banyak bicara, tapi yang sering hadir,” katanya.
Pendiri lembaga survei KedaiKOPI itu juga menilai Teddy cukup memahami ritme komunikasi publik. Ia dianggap mampu menentukan kapan harus aktif turun langsung ke lapangan dan kapan cukup menunjukkan kehadiran secara sederhana.
“Teddy juga kelihatan paham ritme kapan harus turun langsung ke lapangan, kapan cukup berdiri diam mendengarkan, kapan tampil sederhana, tetapi tetap jadi salah satu pusat perhatian publik,” ucap Hensa.
Ia menambahkan, kedekatan figur dengan masyarakat saat ini lebih mudah terbentuk lewat kehadiran langsung dibanding pidato panjang.
“Perlu diingat, publik Indonesia mudah dekat dengan figur yang kelihatan ikut capek, datang ke daerah jauh, jalan tanpa protokol berlebihan, bertemu warga tanpa banyak gimmick, di era media sosial ini efektif karena saat ini visual sering lebih kuat daripada penjelasan panjang,” ujar Hensa.
Meski demikian, Hensa mengingatkan bahwa meningkatnya popularitas juga menjadi fase yang sensitif. Eksposur yang terus muncul di ruang publik, kata dia, bisa memunculkan spekulasi mengenai arah karier politik seseorang di masa mendatang.
“Ketika seseorang belum punya agenda politik apa-apa, tetapi sudah sangat recognizable, orang akan mulai bertanya sendiri, ‘Ini orang sebenarnya sedang dipersiapkan jadi apa?’ dan pertanyaan seperti itu biasanya muncul bukan karena pencitraan yang berlebihan, tetapi karena eksposurnya konsisten,” katanya.
Ia pun menilai popularitas semacam itu justru akan lebih kuat jika dijaga secara natural dan tidak berlebihan.
“Kalau momentumnya dijaga natural, popularitas seperti ini biasanya malah lebih kuat,” tutup Hensa.
