Jakarta – Persebaran abu vulkanik Gunung Anak Krakatau berpotensi menimbulkan gangguan kesehatan. Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin pun meminta masyarakat di wilayah terdampak mengurangi aktivitas di luar rumah untuk sementara waktu.
Menurut Budi, paparan abu vulkanik perlu diwaspadai karena dapat mengganggu tiga bagian tubuh, yakni sistem pernapasan, mata, dan kulit.
Meski demikian, masyarakat diminta tidak panik. Pencegahan dapat dilakukan dengan mengurangi aktivitas di luar ruangan apabila tidak ada keperluan mendesak.
“Pencegahannya bagaimana? Kalau tidak ada kegiatan yang mengharuskan untuk keluar, usahakan itu tetap di dalam rumah,” ujar Budi dalam konferensi pers, dikutip, Mingu (6/9/2027).
Abu Vulkanik Bisa Ganggu Pernapasan
Budi menjelaskan partikel abu vulkanik dapat masuk ke saluran pernapasan. Karena itu, masyarakat yang berada di wilayah terdampak dianjurkan tetap berada di dalam rumah sementara waktu.
Jika harus keluar rumah, penggunaan masker menjadi salah satu langkah perlindungan untuk mengurangi risiko partikel abu terhirup.
Bagi masyarakat yang mulai mengalami gangguan pernapasan, Budi meminta segera mendatangi fasilitas kesehatan terdekat.
“Kalau sudah merasa tidak enak pernapasannya, segera ke puskesmas terdekat. Kita sudah men-deploy alat-alat nebulizer dan juga oksigen konsentrator,” ujarnya.
Kementerian Kesehatan juga telah menyiapkan sejumlah peralatan pendukung di puskesmas untuk menangani warga yang mengalami gangguan akibat paparan abu vulkanik.
Mata dan Kulit Juga Perlu Dilindungi
Selain saluran pernapasan, abu vulkanik juga dapat menyebabkan mata terasa gatal hingga mengalami iritasi.
Budi kembali mengingatkan masyarakat untuk menghindari aktivitas di luar ruangan jika tidak diperlukan. Namun, bagi warga yang terpaksa keluar, penggunaan kacamata dapat membantu mencegah partikel abu bersentuhan langsung dengan mata.
Jika abu sudah masuk atau mengganggu mata, masyarakat diminta tidak menguceknya. Mata sebaiknya segera dibilas menggunakan air.
“Jadi kalau sudah kena (abu), treatment-nya seperti apa? Jangan dikucek-kucek, bersihkan pakai air, dan kalau perlu, pakai obat tetes mata. Bisa segera ke Puskesmas, karena semua Puskesmas sudah kita sediakan obat tetes mata,” tutur dia.
Paparan abu vulkanik juga berpotensi menyebabkan kulit mengalami iritasi dan gatal-gatal. Untuk mengatasinya, masyarakat diminta membersihkan bagian kulit yang terkena abu secara hati-hati menggunakan air.
Hal itu penting karena partikel abu vulkanik dapat memiliki karakter tajam sehingga berisiko menimbulkan iritasi ketika menempel pada permukaan kulit.
Jika keluhan semakin parah, masyarakat diminta segera mendapatkan pemeriksaan di puskesmas.
“Kalau nanti ternyata sudah ada dampaknya, seperti gatal-gatal, kalau kulitnya merasa tidak enak, itu bisa ke Puskesmas. Kita akan deploy salep kulit ke Puskesma,” jelas dia.
Kemenkes Aktifkan Pusat Komando Kedaruratan Kesehatan
Sebagai bagian dari penanganan dampak erupsi, Kementerian Kesehatan telah mengaktifkan **Health Emergency Operating Center** di wilayah yang terdampak persebaran abu vulkanik.
Kemenkes juga menyiapkan surat edaran yang memuat panduan penanganan kesehatan secara lebih rinci bagi tenaga kesehatan di kabupaten dan kota yang terdampak.
Budi kembali mengingatkan masyarakat agar tetap tenang sekaligus meningkatkan kewaspadaan terhadap kondisi kesehatan.
“Sekali lagi, jangan panik, tetap di rumah dan tetap sehat,” pungkas dia.
