Jakarta – Aktivitas industri manufaktur Indonesia menunjukkan tren ekspansi pada Oktober 2026. Purchasing Managers’ Index (PMI) manufaktur nasional tercatat mencapai level 54, naik dari 52,4 pada September 2026.
Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto menyampaikan, capaian tersebut menjadi tingkat ekspansi tertinggi sejak Maret 2024. Kenaikan PMI ini mencerminkan aktivitas sektor manufaktur yang terus mengalami pertumbuhan.
“Ini menandakan penguatan ekspansi sektor manufaktur, dan level ekspansinya ini terkuat sejak Maret 2024, jadi ini level ekspansi yang tinggi,” ujar Airlangga usai bertemu Presiden Prabowo Subianto, Senin (2/11/2026).
Menurut Airlangga, perkembangan industri manufaktur tersebut turut menggambarkan kondisi fundamental perekonomian Indonesia yang masih terjaga menjelang penghujung tahun. Sejumlah indikator makroekonomi lainnya juga menunjukkan perkembangan yang mendukung kondisi tersebut.
Dari sisi harga, inflasi pada Oktober 2026 tercatat sebesar 3,23 persen secara tahunan. Sementara itu, inflasi berdasarkan perhitungan tahun kalender atau year-to-date mencapai 2,4 persen. Angka tersebut masih berada dalam sasaran inflasi nasional yang ditetapkan pada kisaran 1,5 hingga 3,5 persen.
Untuk mempertahankan daya beli masyarakat hingga akhir tahun, pemerintah menyiapkan sejumlah stimulus. Kebijakan tersebut mencakup pemberian insentif tiket transportasi selama periode Natal dan Tahun Baru (Nataru), serta penyaluran bantuan pangan kepada 33,2 juta Keluarga Penerima Manfaat (KPM) hingga akhir tahun.
“Jadi kita menggelontorkan bantuan agar daya tahan bisa terjaga,” imbuh dia.
Airlangga juga menyoroti kinerja perdagangan Indonesia yang masih mencatatkan surplus. Sepanjang Januari hingga September 2026, neraca perdagangan nasional membukukan surplus sebesar USD 10,61 miliar di tengah dinamika ekonomi global.
Pada periode yang sama, nilai ekspor Indonesia mencapai USD 221,23 miliar atau meningkat 5,58 persen dibandingkan periode Januari-September tahun sebelumnya. Adapun impor tercatat sebesar USD 210,63 miliar, tumbuh 19,67 persen secara tahunan.
Meski laju pertumbuhan impor lebih tinggi daripada ekspor, Airlangga menjelaskan bahwa sebagian besar barang yang masuk ke Indonesia merupakan bahan baku, bahan penolong, dan barang modal. Komposisi tersebut berkaitan dengan kebutuhan produksi serta investasi di sektor industri dan manufaktur.
“Jadi, ini menunjukkan bahwa fundamental ekonomi Indonesia terjaga dan masih kuat sampai bulan ini, dan sampai akhir tahun diharapkan kondisi masih terjaga,” pungkas dia.
Alternatif judul:
-
PMI Manufaktur Indonesia Tembus 54, Ekspansi Tertinggi dalam Dua Tahun
-
Airlangga Sebut Industri Manufaktur Indonesia Makin Ekspansif pada Oktober 2026
-
PMI Manufaktur Naik dari 52,4 ke 54, Pemerintah Soroti Penguatan Industri
-
Manufaktur Indonesia Menguat, PMI Oktober 2026 Capai Level Tertinggi Sejak Maret 2024
-
Pemerintah Optimistis Ekonomi Terjaga, PMI Manufaktur Indonesia Terus Meningkat
Catatan: Seluruh kutipan langsung dipertahankan sesuai naskah sumber. Angka dan keterangan disajikan berdasarkan materi siaran pers yang diberikan.
