Jakarta – Wakil Ketua DPR RI Sufmi Dasco Ahmad mengajak generasi muda memperkuat persatuan nasional di tengah ketidakpastian geopolitik dan geoekonomi yang berpotensi memengaruhi Indonesia. Bertepatan dengan momentum Sumpah Pemuda, Dasco menekankan pentingnya mengutamakan kepentingan nasional, memperkuat kerja sama, dan mempertahankan sikap kritis dalam menghadapi tantangan global.
Dasco menilai semangat Sumpah Pemuda yang diikrarkan pada 1928 masih relevan untuk menghadapi tantangan saat ini. Kala itu, para pemuda dari berbagai latar belakang menyatukan tekad karena menyadari bahwa masa depan Indonesia tidak dapat diperjuangkan secara sendiri-sendiri.
Menurutnya, semangat tersebut perlu terus dijaga agar Indonesia mampu menghadapi dinamika global yang berdampak terhadap perekonomian maupun keamanan kawasan.
Ketegangan di Timur Tengah, misalnya, turut memengaruhi harga energi, biaya logistik, rantai pasok, hingga inflasi kebutuhan masyarakat. Sementara di kawasan Asia Tenggara, dinamika Laut China Selatan, keamanan pelayaran, kejahatan lintas batas, dan ancaman siber menjadi tantangan bagi ketahanan ASEAN.
Dasco mengingatkan bahwa berbagai tantangan tersebut berisiko menggerus persatuan bangsa. Namun, kondisi itu semestinya menjadi momentum untuk memperkuat solidaritas nasional.
Prabowo Ucapkan Selamat atas Kemenangan Lula, Dorong Penguatan Kemitraan Strategis Indonesia-Brasil
“Karena itu, persatuan tidak boleh berhenti menjadi semboyan. Ia harus menjelma menjadi kemampuan negara dalam mengambil keputusan yang tepat, cepat, dan adil,” ujar Dasco dalam pernyataannya, Rabu (28/10/2026).
Ia menegaskan, persatuan tidak hanya dibutuhkan ketika keadaan berjalan mudah. Persatuan juga harus diwujudkan melalui kesediaan berbagai pihak untuk bekerja sama dan menempatkan kepentingan bangsa di atas kepentingan kelompok.
Dalam konteks tersebut, Dasco kembali mengingatkan sejarah Sumpah Pemuda. Pada 1928, para pemuda dari berbagai daerah, suku, dan organisasi mampu menyatukan perbedaan demi cita-cita bersama, yakni satu tanah air, satu bangsa, dan satu bahasa.
Ia berharap nilai-nilai persatuan tersebut terus menjadi pegangan masyarakat dalam menghadapi berbagai tantangan, termasuk perubahan situasi geopolitik dan geoekonomi dunia.
“Itulah keberanian politik generasi 1928, menempatkan cita-cita bangsa di atas batas kelompok. Dan keberanian semacam itu kembali dituntut dari kita hari ini. Dunia saat ini sedang bergerak dalam ketidakpastian geopolitik dan geoekonomi,” jelas dia.
Dasco menambahkan, para pemuda pada 1928 tidak memiliki kendali atas guncangan global. Meski demikian, mereka menunjukkan bahwa berbagai tantangan dapat dihadapi dengan sikap luhur, yakni berani tanpa gegabah, terbuka tanpa tunduk, serta bersatu tanpa kehilangan nalar kritis.
Karena itu, ia mengajak generasi muda dan seluruh elemen bangsa menghidupkan kembali semangat Sumpah Pemuda dengan menjaga persatuan, mengutamakan kepentingan nasional, dan memperkuat kerja sama untuk menghadapi ketidakpastian global.
“Saya mengajak kepada seluruh kekuatan bangsa, terutama generasi muda, untuk menjaga semangat itu,” pungkasnya.
