Jakarta – Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen) terus memperkuat ekosistem pendidikan nasional melalui pembangunan fasilitas baru sekaligus pembenahan infrastruktur sekolah yang telah tersedia.
Kebijakan tersebut sekaligus menjawab kekhawatiran bahwa pembangunan sekolah baru akan mengesampingkan keberadaan sekolah lama. Kemendikdasmen memastikan pengembangan infrastruktur pendidikan dilakukan secara bersamaan agar kebutuhan layanan pendidikan tetap terpenuhi.
Direktur Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini, Pendidikan Dasar, dan Pendidikan Nonformal dan Informal Kemendikdasmen Gogot Suharwoto mengatakan pembangunan sekolah baru berjalan beriringan dengan perbaikan fasilitas pendidikan yang sudah ada.
“Ini adalah tanda bahwa negara membenahi yang lama sekaligus membangun yang baru. Pada tahap awal pembangunan Sekolah Nasional Terintegrasi, kami memanfaatkan fasilitas milik Kemendikdasmen dan pemerintah daerah yang sudah ada agar hak belajar anak-anak tidak tertunda hanya untuk menunggu gedung baru selesai dibangun,” ujar Gogot, Rabu (23/9/2026).
Pada 2026, sebanyak 35 lokasi ditargetkan memasuki tahap pembangunan fisik. Sekolah-sekolah tersebut diproyeksikan mulai menerima peserta didik baru pada 2027.
Program tersebut menjadi bagian dari rencana jangka panjang pemerintah untuk menghadirkan hingga 500 layanan Sekolah Nasional Terintegrasi di berbagai wilayah Indonesia pada 2029.
Pemerintah berharap keberadaan layanan tersebut dapat mendorong perubahan kualitas pendidikan di daerah secara berkelanjutan, baik dari sisi infrastruktur maupun kesempatan belajar bagi peserta didik.
Gogot juga menyoroti potensi peserta didik yang tergabung dalam angkatan pertama. Sejumlah siswa merupakan lulusan terbaik dari sekolah sebelumnya. Ada pula peserta didik yang memiliki cita-cita menjadi dokter spesialis hingga talenta di bidang kepanduan seperti Pramuka Garuda.
Menurutnya, kondisi tersebut menunjukkan bahwa potensi peserta didik berprestasi tidak hanya berada di wilayah tertentu, melainkan tersebar di berbagai daerah Indonesia.
“Kenyataan pada angkatan pertama ini menjadi bukti bahwa talenta unggul Indonesia pada dasarnya tersebar di seluruh penjuru Tanah Air. Mereka hanya menunggu kesempatan yang setara untuk berkembang,” tutup Gogot.
