Jakarta – Pemerintah terus memperkuat berbagai langkah untuk mengendalikan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kalimantan. Salah satu upaya yang dioptimalkan adalah Operasi Modifikasi Cuaca (OMC) untuk meningkatkan peluang turunnya hujan di kawasan rawan kebakaran.
OMC dijalankan sebagai bagian dari strategi penanganan karhutla yang terintegrasi. Pelaksanaannya tetap berjalan berdampingan dengan pemadaman dari darat, patroli, deteksi dini, serta koordinasi antara kementerian/lembaga dan pemerintah daerah.
Prabowo Tegas soal Karhutla: Pelaku Pembakaran Terancam Ditindak, Izin Korporasi Bisa Dicabut
“Pelaksanaannya tetap didukung pemadaman darat, patroli, deteksi dini, serta koordinasi lintas kementerian/lembaga dan pemerintah daerah,” kata Kepala Biro Hubungan Masyarakat dan Kerja Sama Luar Negeri Kementerian Kehutanan, Ristianto Pribadi, melalui keterangan tertulis dikutip, Sabtu (22/8/2026).
OMC di Kalimantan Barat
Di Kalimantan Barat, pelaksanaan OMC sebelumnya berlangsung pada 13 hingga 17 Agustus 2026 melalui Posko Pontianak. Selama periode tersebut, tercatat sembilan sorti penerbangan dengan estimasi volume curah hujan di wilayah penyemaian mencapai 10,92 juta meter kubik.
Peluang pelaksanaan OMC kembali terbuka pada 23 hingga 27 Agustus 2026 berdasarkan perkembangan prakiraan cuaca. BMKG saat ini berkoordinasi dengan sejumlah pihak untuk mempersiapkan kemungkinan pelaksanaan operasi pada periode tersebut.
Sementara di Kalimantan Tengah, OMC telah dilakukan dalam dua tahap. Periode pertama berlangsung pada 27 Juli hingga 4 Agustus, sedangkan tahap berikutnya digelar pada 11 hingga 15 Agustus 2026.
Dua periode tersebut menghasilkan 13 sorti penerbangan dengan estimasi volume curah hujan di area penyemaian sekitar 4,8 juta meter kubik.
“Namun, hingga akhir Agustus 2026, kondisi cuaca di Kalimantan Tengah diprakirakan masih didominasi kondisi kering dengan pertumbuhan awan hujan yang terbatas,” kata Ristianto.
Kondisi tersebut membuat peluang pelaksanaan OMC dalam waktu dekat menjadi terbatas. Meski demikian, pemantauan kondisi atmosfer tetap dilakukan untuk mencari kemungkinan terbentuknya awan yang memenuhi syarat untuk penyemaian.
Kondisi Kalimantan Selatan Dipantau
Untuk Kalimantan Selatan, pemerintah terus memantau perkembangan cuaca, titik panas atau hotspot, serta kondisi kebakaran secara intensif. Pelaksanaan OMC akan dipertimbangkan berdasarkan kondisi atmosfer, keberadaan awan potensial, dan kebutuhan penanganan karhutla di lapangan.
“Mengingat OMC sangat bergantung pada kondisi atmosfer, operasi hanya dapat dilakukan apabila tersedia awan yang memenuhi persyaratan teknis untuk penyemaian,” kata dia.
Pemerintah menegaskan OMC bukan satu-satunya metode yang digunakan untuk mengendalikan karhutla. Pemadaman darat, patroli terpadu, pendinginan area terbakar, penguatan personel dan peralatan, serta upaya mencegah penyebaran api tetap menjadi bagian utama operasi.
“Evaluasi kondisi cuaca dan operasi lapangan dilakukan secara berkala untuk memastikan setiap langkah penanganan dilaksanakan secara cepat, tepat sasaran, dan terkoordinasi,” kata Ristianto.
Armada Udara Ditambah
Selain mengoptimalkan OMC, pemerintah juga memperkuat penanganan melalui pengerahan armada udara. Di Kalimantan Tengah, sejumlah helikopter patroli, pesawat patroli fixed wing, dan helikopter water bombing digunakan untuk mendukung operasi pengendalian karhutla.
Armada udara berfungsi membantu satuan tugas darat, terutama dalam menjangkau lokasi yang sulit dicapai melalui jalur darat. Menteri Kehutanan Raja Juli Antoni juga telah berkoordinasi dengan Kepala BNPB untuk menambah dukungan armada udara bagi operasi water bombing di Kalimantan Tengah.
“Penambahan armada diharapkan meningkatkan jangkauan operasi, khususnya pada lokasi yang sulit diakses dan membutuhkan pembasahan dari udara. Namun, pengerahan armada tetap harus mempertimbangkan jarak pandang, kondisi asap, cuaca, serta standar keselamatan penerbangan,” kata Ristianto.
Namun, kondisi asap yang pekat dalam beberapa hari terakhir menjadi kendala tersendiri bagi operasi udara. Situasi tersebut terjadi antara lain di sekitar Jabiren dan Tanjung Taruna hingga kawasan Taman Nasional Sebangau.
Asap tebal dapat mengurangi jarak pandang pilot sehingga menyulitkan identifikasi sasaran sekaligus meningkatkan risiko dalam penerbangan.
“Dalam kondisi jarak pandang yang tidak memenuhi standar keselamatan, helikopter tidak dapat dipaksakan menjangkau lokasi pemadaman,” katanya.
Keterbatasan operasi udara tidak membuat penanganan karhutla dihentikan. Ketika kondisi atmosfer belum memungkinkan pelaksanaan OMC atau jarak pandang tidak aman untuk water bombing, satuan tugas di darat tetap bergerak melakukan pemadaman, penyekatan, pembasahan, pendinginan, dan penjagaan di lokasi yang rawan terbakar kembali.
“Strategi operasi terus disesuaikan berdasarkan kondisi aktual di lapangan,” ujarnya.
Pemerintah memastikan seluruh instrumen penanganan akan terus dievaluasi dengan mempertimbangkan perkembangan cuaca dan kondisi karhutla. Kolaborasi antara pemerintah pusat, pemerintah daerah, aparat, petugas lapangan, serta unsur pendukung lainnya diharapkan mampu mempercepat pengendalian kebakaran di wilayah Kalimantan.
