Jakarta – Setelah lebih dari lima tahun tidak mengalami perubahan, Kementerian Perhubungan (Kemenhub) berencana kembali menyesuaikan tarif ojek online (Ojol) pada tahun 2026. Wacana ini muncul lantaran besaran tarif yang berlaku saat ini dinilai masih memicu keluhan dan keresahan para pengemudi.
Kasubdit Angkutan Tidak dalam Trayek Direktorat Angkutan Jalan Ditjen Perhubungan Darat Kemenhub, Utomo Hermawan, menyampaikan bahwa rencana penyesuaian tarif tersebut berangkat dari aspirasi para driver dan asosiasi Ojol yang selama ini menuntut adanya evaluasi tarif.
“Itu yang selalu bikin keresahan dalam tuntutan driver-driver atau asosiasi ini,” ujar Utomo kepada wartawan di Jakarta, Jumat (12/12/2025).
Meski demikian, rencana penyesuaian tarif tersebut tidak sepenuhnya disambut positif oleh para pengemudi. Sejumlah driver justru mengkhawatirkan kenaikan tarif akan berdampak pada berkurangnya jumlah pelanggan karena ongkos perjalanan yang semakin mahal.
Hal tersebut disampaikan Ikhsan, salah seorang driver Ojol yang ditemui Disway. Menurutnya, kondisi saat ini saja sudah cukup sulit karena jumlah pelanggan tidak sebanyak sebelumnya.
“Sekarang ini (pelanggan) makin pada takut naik tarif. Jadi kami takutnya pada pindah ke yang lebih murah,” kata Ikhsan kepada Disway di Jakarta, Sabtu (13/12/2025).
Ia menambahkan, hingga kini para pengemudi belum memperoleh kejelasan mengenai besaran kenaikan tarif yang akan diterapkan. Ketidakpastian ini turut menambah kekhawatiran di kalangan driver.
“Kalau misalkan jarak dekat, misalkan jarak dekat kan Rp 15.000, paling bisa naik Rp 2.000 jadi Rp 17.000. Tapi kalau yang jarak jauh? Kan pada takutnya itu,” pungkas Ikhsan.
Driver Mengaku Semakin Sulit Mendapat Order
Keluhan serupa juga disampaikan Wawan, driver Ojol lainnya. Ia mengungkapkan bahwa saat ini pengemudi semakin sulit mendapatkan pelanggan karena faktor biaya perjalanan yang dinilai memberatkan konsumen.
“Sekarang kita itu gak bisa pilih-pilih (Customer). Yang mesen tujuannya ke Bogor dari Jaksel (Jakarta Selatan) aja ya kita tetep terima, karena sekarang pada mikirin ongkosnya,” ujar Wawan.
Tak hanya soal tarif, Wawan juga menyoroti besarnya potongan yang diterapkan oleh aplikator terhadap pendapatan driver. Menurutnya, potongan tersebut masih dirasa terlalu tinggi dan lebih menguntungkan perusahaan.




