Jakarta – Menteri ESDM Bahlil Lahadalia memastikan ketersediaan Liquefied Petroleum Gas (LPG) untuk kebutuhan dalam negeri tetap aman meski terjadi gejolak global akibat penutupan Selat Hormuz.
Ia menyampaikan, saat ini Indonesia telah mengamankan pasokan dari sejumlah negara, termasuk Amerika Serikat dan Australia.
“Alhamdulillah sekarang cadangan kita untuk LPG kapasitasnya sudah di atas 10 hari,” ujar Bahlil di Jakarta, Rabu (8/4/2026).
Dalam kesempatan tersebut, Bahlil juga mengungkapkan bahwa tambahan pasokan LPG akan segera tiba dalam waktu dekat. Kapal pengangkut masih dalam proses komunikasi intensif agar dapat segera masuk ke wilayah Indonesia.
“Sebentar lagi kapal kita masuk,” lanjutnya.
Pemerintah menegaskan bahwa pasokan LPG nasional tidak bergantung pada jalur Selat Hormuz, sehingga tidak terdampak langsung oleh dinamika geopolitik di kawasan tersebut. Indonesia memperoleh pasokan dari berbagai negara mitra.
“Kita sudah ambil dari Australia, dari Amerika dan beberapa negara lain,” kata Bahlil.
Selain LPG, pemerintah juga memastikan kebutuhan energi nasional lainnya tetap terjaga melalui strategi diversifikasi sumber pasokan. Untuk minyak mentah, Indonesia sebelumnya memang masih mengandalkan sebagian pasokan dari Timur Tengah, namun kini telah disiapkan alternatif dari berbagai negara.
“Total yang kita ambil dari Selat Hormuz untuk crude sekitar 20–25 persen. Dan kita sudah mampu mendapatkan penggantinya dari beberapa negara seperti Angola, Afrika, Nigeria, Amerika dan beberapa negara lain,” jelasnya.
Dengan langkah diversifikasi tersebut, pemerintah optimistis ketahanan energi nasional tetap stabil meskipun menghadapi dinamika global.
“Jadi kita Insyaallah sudah clear lah,” tutupnya.
