Jakarta – Peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia tidak hanya menjadi momentum untuk mengenang perjuangan para pendahulu. Semangat kemerdekaan juga diwujudkan melalui kebersamaan, solidaritas, dan kesempatan yang setara bagi seluruh masyarakat.
Hal itu tercermin dalam penyelenggaraan Merdeka Run 2026 yang menjadi bagian dari rangkaian peringatan HUT ke-81 Kemerdekaan RI. Kegiatan tersebut digelar Sekretariat Negara RI bersama Kementerian Pemuda dan Olahraga (Kemenpora) RI.
Merdeka Run 2026 dimulai sejak pukul 05.00 WIB dan diikuti sekitar 10.530 peserta dari berbagai daerah di Indonesia. Peserta dapat mengikuti dua kategori lomba, yakni kategori umum dengan jarak tempuh 8 kilometer dan kategori keluarga sejauh 4,5 kilometer.
Menariknya, kegiatan olahraga tersebut dibuka secara gratis untuk seluruh lapisan masyarakat. Kehadiran peserta dari berbagai latar belakang juga membuat Merdeka Run menjadi ruang untuk memperkuat pesan inklusivitas dalam perayaan kemerdekaan.
Salah satu peserta, Siti Hana Komalasari (33), penyandang disabilitas asal Jakarta, mengaku gembira dapat mengikuti Merdeka Run 2026. Menurut perempuan yang akrab disapa Hana itu, penyelenggaraan kegiatan tersebut telah memberikan ruang dan kesempatan yang cukup setara bagi penyandang disabilitas.
“Karena memang ini pertama bagi saya untuk ikut Merdeka Run ini. Jadi bagi saya sudah inklusif banget, sudah buat kita senang, buat kita happy, jadi (semoga) kita bisa bergabung dengan (acara) run-run yang lainnya,” kata Hana.
Hana merupakan atlet wheelchair tennis dan saat ini tengah mempersiapkan diri untuk tampil dalam Pekan Paralimpiade Nasional (Peparnas) 2028.
Baginya, Merdeka Run memiliki arti khusus. Selain dapat berolahraga bersama masyarakat dari berbagai kalangan, rute lomba juga membawanya melewati kawasan yang selama ini ingin ia kunjungi.
Rute Merdeka Run 2026 dimulai dari kawasan depan Istana Merdeka, kemudian menuju Dukuh Atas sebelum peserta berputar balik menuju titik awal. Kesempatan memasuki kawasan Istana Kepresidenan tersebut menjadi salah satu pengalaman yang paling berkesan bagi Hana.
Menurut Hana, akses bagi penyandang disabilitas di Indonesia kini mulai semakin tersedia. Namun, fasilitas tersebut masih lebih banyak ditemukan di kota-kota besar, termasuk Jakarta.
Ia berharap peningkatan aksesibilitas dapat terus dilakukan di berbagai wilayah dan mencakup lebih banyak sektor kehidupan. Tidak hanya bidang olahraga, kesempatan yang setara juga diperlukan dalam dunia kerja.
“Alhamdulillah, di (HUT) kemerdekaan tahun ini, kami sebagai penyandang disabilitas sudah merasa merdeka,” katanya. “Harapan ke depannya semoga Indonesia semakin jaya, semakin makmur, dan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.”
Penyandang Disabilitas Ikut Peduli Korban Bencana
Makna kemerdekaan bagi Hana juga tidak terlepas dari kepedulian terhadap masyarakat yang sedang menghadapi bencana. Ia menyampaikan empati kepada warga yang terdampak gempa bumi maupun kebakaran hutan dan lahan (karhutla).
“Untuk saudara-saudara kita yang sedang mengalami musibah, saya pribadi dan rekan-rekan disabilitas, pasti turut sedih, turut berduka cita, karena kita juga di sini ikut merasakan, walaupun kita jauh, tapi kita di sini ikut berdoa, ikut memberikan semangat, bahwa kalian itu tidak sendiri, kita tetap Indonesia, kita tetap satu dimanapun kita berada,” katanya.
Pesan solidaritas serupa disampaikan Nedi Supriyadi (39), anggota National Paralympic Committee (NPC) Jakarta Pusat. Ia turut mendoakan masyarakat yang tengah tertimpa musibah agar diberikan kekuatan dan ketabahan.
“Saya turut berduka untuk teman kita yang di sana. Saudara kita yang di NTT, juga ada yang disabilitas, menghadapi musibah. Karena musibah itu ya dari Yang Maha Kuasa, mudah-mudahan dibalik musibah ini ada hikmahnya. Keluarga yang ditinggalkan diberikan ketabahan dan harta yang sudah hilang digantikan oleh Allah SWT,” kata Nedi.
Nedi yang juga menggunakan kursi roda menilai aksesibilitas bagi penyandang disabilitas masih perlu terus diperbaiki. Ia berharap pembangunan fasilitas publik di Indonesia semakin memperhatikan kebutuhan pengguna kursi roda.
“Harapannya semakin ramah terhadap disabilitas,” kata Nedi. “Setiap gedung, enggak hanya di Jakarta, tapi di Indonesia. Setiap ada (pengguna) kursi roda itu, lebih (mudah) akses terhadap disabilitas.”
Keikutsertaan dalam Merdeka Run 2026 juga menjadi pengalaman membanggakan bagi Nedi. Ia mengaku senang dapat kembali bertemu Menteri Pemuda dan Olahraga Erick Thohir dalam kegiatan tersebut.
“Suatu kebanggaan, perjuangan yang luar biasa untuk menuju ke sini. Saya ketemu dua kali dengan Pak Erick Thohir, saya sangat bangga,” katanya.
Sementara itu, peserta lainnya, Winny (26) dari Cikarang, Jawa Barat, juga mengaku bangga dapat berpartisipasi dalam Merdeka Run 2026. Menurutnya, kegiatan tersebut memberikan kesempatan bagi penyandang disabilitas untuk ikut beraktivitas dan berlari bersama peserta lainnya.
Ia berharap momentum HUT ke-81 Kemerdekaan RI turut diikuti dengan semakin terbukanya kesempatan bagi penyandang disabilitas di berbagai sektor, terutama dalam mendapatkan pekerjaan.
“Semoga lapangan pekerjaan bagi disabilitas bisa diperluas,” harapnya.
