Iftitah mengatakan, kunjungan atas undangan Pemerintah China tersebut menjadi kesempatan untuk mempelajari pemanfaatan teknologi, investasi, dan pengembangan sumber daya manusia dalam membangun pusat-pusat pertumbuhan ekonomi baru, terutama di luar Pulau Jawa.
“Kita membutuhkan teknologi, investasi, industri, dan sumber daya manusia yang mampu menciptakan nilai tambah. Karena itu, kita ingin belajar dari pengalaman China dalam membangun industri dan mengembangkan ekonomi pedesaan,” kata Iftitah dalam keterangan resmi yang diterima di Jakarta, Minggu (11/10/2026).
Menurutnya, pengalaman China dalam memadukan sektor pertanian, pembangunan infrastruktur, industrialisasi, dan peningkatan kualitas tenaga kerja dapat menjadi referensi untuk mengembangkan kawasan transmigrasi di Indonesia.
Ia menegaskan, kawasan transmigrasi perlu diarahkan menjadi pusat kegiatan ekonomi produktif yang mampu menciptakan lapangan kerja dan meningkatkan pendapatan warga. Dengan demikian, kawasan tersebut tidak hanya berfungsi sebagai lokasi perpindahan penduduk dan penyediaan lahan.
Bahas Pertanian Modern dan Hilirisasi
Dalam agenda kunjungan, Iftitah dijadwalkan bertemu dengan Kementerian Pertanian dan Pedesaan China atau Ministry of Agriculture and Rural Affairs (MARA) pada 12 Oktober. Pertemuan tersebut akan membahas peluang kerja sama pertanian modern, teknologi produksi, pengolahan hasil pertanian, serta revitalisasi ekonomi perdesaan.
Agenda itu juga direncanakan melibatkan Akademi Ilmu Pengetahuan Pertanian China atau Chinese Academy of Agricultural Sciences (CAAS) dan Pusat Kerja Sama Ekonomi Luar Negeri China atau Foreign Economic Cooperation Center (FEC). Kedua lembaga tersebut menjadi bagian dari penjajakan pengembangan teknologi dan kerja sama ekonomi di sektor pertanian.
Sejumlah komoditas dari kawasan transmigrasi yang berpotensi dikembangkan melalui kerja sama itu antara lain durian di Sulawesi Tengah, kelapa genjah di Nusa Tenggara Timur, kelapa di Maluku Utara, serta padi, kakao, kopi, dan tebu di Papua.
Iftitah menyebut, kerja sama yang dijajaki tidak hanya berorientasi pada peningkatan produksi komoditas. Pemerintah juga ingin mendorong pembangunan industri pengolahan, memperluas akses pasar, mempercepat transfer teknologi, dan meningkatkan keterampilan tenaga kerja lokal.
“Kita ingin lebih banyak produk diolah di Indonesia, lebih banyak nilai tambah tinggal di daerah, dan lebih banyak masyarakat memperoleh pekerjaan,” ujar Mentrans.
Jajaki Kolaborasi Akademik dan Industri
Selain bertemu dengan pemerintah China, Iftitah dijadwalkan memberikan kuliah umum di Institute of South-South Cooperation and Development (ISSCAD), Peking University, Beijing, pada 12 Oktober.
Dalam kesempatan tersebut, ia akan memaparkan arah transformasi transmigrasi Indonesia melalui pengembangan kawasan berbasis investasi, industrialisasi, peningkatan produktivitas, dan pemerataan kesempatan ekonomi.
Kerja sama akademik antara kedua negara sebelumnya telah dijajaki. Pada 9–22 Mei 2026, Kementerian Transmigrasi mengirimkan 36 peserta ke China untuk mengikuti pelatihan mengenai pengembangan kawasan transmigrasi dan pengentasan kemiskinan.
Selanjutnya, pada Agustus 2026, ISSCAD Peking University menyatakan kesiapan memperluas kolaborasi dengan Kementerian Transmigrasi melalui penelitian bersama dan pertukaran akademik guna mendukung pembangunan kawasan transmigrasi.
Delegasi Kementerian Transmigrasi juga dijadwalkan mengunjungi sejumlah pusat industri dan penelitian di Beijing, Chongqing, Hangzhou, Zhejiang, dan Shanghai.
Beberapa lokasi yang masuk dalam agenda kunjungan meliputi BAIC Group, Chongqing Academy of Agricultural Sciences, Chongqing Sanfeng Environment Group, China National Rice Research Institute, Zhejiang Huayou Cobalt, Zhenshi Holding Group, dan Commercial Aircraft Corporation of China (COMAC).
Melalui kunjungan tersebut, delegasi akan mempelajari pengembangan industri manufaktur, teknologi lingkungan, serta riset pertanian sebagai bahan pertimbangan dalam mendorong kegiatan ekonomi di kawasan transmigrasi Indonesia.
Evaluasi Pengembangan Kawasan Transmigrasi
Di dalam negeri, Kementerian Transmigrasi pada September 2026 telah mengevaluasi 246 program Tim Ekspedisi Patriot (TEP) 2026. Program tersebut melibatkan 1.476 peserta yang tersebar di 53 kawasan transmigrasi.
Evaluasi dilakukan untuk memastikan pelaksanaan program sesuai dengan kebutuhan masyarakat dan sasaran pembangunan kawasan.
Iftitah menekankan, berbagai pendekatan yang dipelajari dari China nantinya perlu disesuaikan dengan kondisi geografis, sosial, budaya, lingkungan, serta kebutuhan masyarakat Indonesia.
Ia berharap hasil kunjungan kerja tersebut dapat ditindaklanjuti melalui penjajakan investasi, pengembangan industri pengolahan, kolaborasi penelitian, dan peningkatan keterampilan masyarakat setempat.
“Ukuran keberhasilan diplomasi ekonomi bukan berapa banyak negara yang kita kunjungi atau berapa banyak pertemuan yang kita lakukan. Ukurannya adalah manfaat nyata bagi Indonesia. Berapa investasi yang masuk, berapa lapangan kerja yang tercipta, dan berapa pendapatan masyarakat yang meningkat,” tutur Iftitah.
